BORNEONEWS, Palangka Raya – Direktur Utama Perusahaan Daerah Banama Tingang Makmur (PD-BTM) Moses Nicodemus, melaporkan badan usaha yang dipimpinnya itu bangkrut sejak 2015 lalu.

Terakhir neraca keuangan perusahaan mencatat laba Rp60 juta pada 2014. Namun, pada tahun berikutnya laba minus hingga sekarang. Setelah bangkrut, Moses baru mengundurkan diri dan serah terimanya dilakukan pada Kamis (23/3/2017).

Awalnya, Moses kepada Borneonews mengaku telah habis masa jabatan. Tetapi yang jadi pertanyaan, mengapa hanya dirinya dan direktur produksi yang diganti, sedangkan tiga direktur lainnya tidak.

Giliran diminta memberikan laporan singkat mengenai perjalanan BTM hingga saat ini, dalam sambutannya Moses mengaku tidak mampu meneruskan pengelolaan sehingga mengajukan pengunduran diri kepada Gubernur Kalteng Sugianto Sabran sekitar sebulan yang lalu.

“Saya mengajukan mundur ke Gubernur sekarang ini sekitar sebulan yang lalu. Saya minta diganti karena saya rasa mungkin ada tangan dingin lainnya yang mampu menyelamatkan. Saya minta maaf karena telah bikin kecewa akibat tidak bisa beri kontribusi ke daerah ini. Maka secara moril saya mundur dan sekali lagi mohon maaf,” ucapnya di Aula Eka Hapakat lantai 3 Kantor Gubernur Kalteng.

Perusda milik Pemprov Kalteng itu berdiri sejak 1995. Bisnis utamanya adalah mengelola Hotel Dandang Tingang. Namun, menurut Moses, sejak 2009 lalu tidak ada dana kucuran renovasi dari pemerintah sehingga Hotel Dandang Tingan kalah bersaing dengan hotel baru yang terus bermunculan. Sedangkan tanggungan untuk karyawan dan beban operasional tetap tinggi. Inilah, menurut Moses, yang menjadi penyebab anjloknya pendapatan perusahaan.

Pada 2013, pengelolaan Hotel Dandang Tingang dicabut oleh pemprov karena tidak memberi pemasukan bagi daerah. Lalu ditangani langsung oleh Biro Aset Setda Kalteng. Terhitung per Juli 2013, PD-BTM hanya diberi hak sewa dengan kewajiban membayar Rp300 juta per tahun.

Penuturan Moses, pada 2013 tercatat laba bersih PD-BTM yang dipimpinnya Rp145 juta. Pada 2014, BTM masih untung tetapi merosot laba bersihnya hanya Rp60 juta. Masuk tahun 2015, PD-BTM malah tidak menghasilkan untung tetapi malah merugi. Begitupun pada 2016, neraca keuanganya juga lebih hancur lagi. Hanya, Moses tidak menyebut berapa angka minusnya.

“Karena beban pegawai, kualitas hotel menurun karena semakin tua, lalu usaha baru belum berjalan, sehingga keuangan memburuk. Untuk tidak menambah keterpurukan ini, saya mundur. Agar mencari Direksi baru guna selamatkan perusda. Saya yakin dengan dengan tangan dingin mereka perusda bisa selamat,” sebutnya.

Penuturan itupun mendapat komentar dari sejumlah pihak yang hadir. “Bangkrutnya sudah sejak 2015 kok mundurnya baru sekarang, Enak ya habis bikin bangkrut lalu mundur dan minta maaf,” celetuk seorang yang hadir dalam prosesi serah terima jabatan direksi tersebut.

Sementara itu, undangan lainnya ada juga yang memuji. “Bagus juga blak-blakan menyerah dan ngaku rugi, gentle,” ucapnya. (ROZIQIN/B-3)