BORNEONEWS, Palangka Raya – Dunia angkutan umum jalan raya di Kalimantan Tengah belum menggairahkan pengusaha angkutan. Hal ini karena kondisi infrastruktur jalan yang kurang mendukung.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Kalteng Lodewik C Iban, mengungkapkan hal itu dalam Musyawarah Daerah (Musda) V Organda Kalteng, di Palangka Raya, Sabtu (25/3/2017).
“Selain infrastruktur jalan kurang mendukung, juga belum teratasinya dengan baik penertiban terhadap angutan tidak resmi yang beroperasi melalui terminal-terminal gelap,” kata Lodewik di forum yang juga dihadiri oleh pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Kalteng dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kalteng itu.
Selain perwakilan Polda dan Dishub, hadir pula dalam Musda tersebut perwakilan DPC Organda dari 12 Kabupaten/kota dari 14 kabupaten yang ada di Kalteng, serta beberapa pengusaha angkutan darat dan perusahaan jasa pengiriman.
Lodewik menambahkan, kondisi itu makin mendapat tantangan dengan meningkatnya volume kendaraan roda dua dan roda empat yang digunakan masyarakat.
Sekretaris Jenderal DPP Organda, Ateng Aryono yang juga hadir di acara itu, mengungkapkan tantangan usaha angkutan umum di Jakarta.
“Masalah motor roda dua, yang fungsi sebenarnya adalah angkutan pribadi, tetapi sekarang membeludak menjadi angkutan umum, misal ojek. Ini akan menjadi kompetitor, lalu terjadi keributan terlebih ojek aplikasi,” kata Ateng.
“Kendaraan roda dua ini semakin mudah didapat, sehingga jumlah penumpang umum pun menurun. Tetapi bersyukurnya di Kalteng ini, meski banyak kendaraan tapi tidak macet. Beda dengan di Jawa, baik angkutan umum maupun pribadi sama-sama macet,” selorohnya. (ROZIQIN/B-10)








