BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan permintaan minyak sawit dari Tiongkok tahun ini akan stagnan. Hal itu disebabkan oleh penurunan target pertumbuhan ekonomi negara tersebut menjadi 6,5% pada 2017.

"Ekspor ke Tiongkok turun 48% atau dari 612,21 ribu ton pada Desember 2016 menjadi 316,75 ribu ton pada Januari 2017," kata Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Fadhil, dengan kemungkinan stagnasi permintaan minyak sawit dari Negeri Tirai Bambu pada tahun ini, diharapkan ada lonjakan ekspor di pasar Afrika dan Timur Tengah.

Potensi itu cukup terbuka, katanya, terlebih pemerintah juga telah gencar mengeksplorasi pasar di kedua kawasan tersebut.

Pada tahun lalu, ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar Tiongkok mencapai 11% dari total ekspor atau berada di posisi ketiga setelah India (23%) dan Uni Eropa (17%). Sedangkan pada 2015, Tiongkok juga berada di posisi ketiga sebagai pasar ekspor utama minyak sawit Indonesia (15%), setelah India (22%) dan Uni Eropa (16%).

Pasar ekspor minyak sawit Indonesia lainnya pada 2016 adalah Pakistan (9%), Timur Tengah (9%), Afrika (6%), serta Bangladesh dan AS masing-masing sebesar 4%. (NEDELYA RAMADHANI/m)