BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meningkatnya produksi minyak sawit Indonesia seiring meredanya dampak El Nino merupakan berkah menyusul tingginya permintaan untuk pembuatan biodiesel di dalam negeri dan pasar internasional, khususnya AS.

Namun demikian, Indonesia harus menyiapkan langkah antisipatif menyusul munculnya gugatan dari organisasi penghasil biodiesel AS terhadap tarif impor biodiesel dari Indonesia.

Asosiasi produsen biodiesel AS, National Biodiesel Board seperti dilaporkan Reuters baru-baru ini, mengajukan petisi kepada pemerintah AS untuk menetapkan bea masuk antidumping atas biodiesel dari Argentina dan Indonesia.

Gugatan itu diajukan karena mereka menilai biodiesel dari Indonesia dan Argentina telah membanjiri pasar AS dan telah melanggar perjanjian perdagangan.

National Biodiesel Board menyampaikan petisi itu kepada Departemen Perdagangan AS dan US International Trade Commission dengan mengatasnamakan para produsen biodiesel Negeri Paman Sam yang merasa terganggu dengan melimpahnya impor biofuel dalam beberapa tahun terakhir.

Impor biodiesel dari Argentina dan Indonesia melonjak 464% dari 2014 hingga 2016 berkat 'aktivitas perdagangan ilegal' yang merebut sekitar 18% pangsa pasar di AS, demikian pernyataan tertulis National Biodiesel Board. (NEDELYA RAMADHANI/m)