BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Parisada Hindu Dharma IKalteng I Nyoman Sudyana mengatakan, Nyepi menjadi bahan renungan, kilas balik, evaluasi maupun intropeksi diri.
Nyepi digelar dengan melakukan empat disiplin kehidupan (Catur Brata Penyepian). "Yakni mengendalikan amarah (Amati Geni), menghindari kegiatan fisik (Amati Karya), menghindari bepergian (Amati Lelungaan) dan tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan)," kata Nyoman, Senin (27/3/2017).
Dengan keeampat disiplin tersebut, lanjut dia, sukma (diri sejati manusia) akan bisa fokus dalam keheningan untuk melaksanakan renungan atau introspeksi diri. Ini juga menjadi ciri khas pelaksanaan perayaan tahun baru bagi umat Hindu, bukan beramai-ramai namun menyepi.
Ada empat tahapan kegiatan yang digelar dalam rangkaian Nyepi.
Pertama, Melasti atau Makiyis. adalah prosesi spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kotoran dan kejahatan akibat dari perputaran karma selama satu tahun yang penuh dengan intrik, gejolak, nafsu dan berbagai sisi negatif kemanusiaan.
Penyucian ini tidak berhenti pada tataran alam semesta, tetapi juga pada diri setiap manusia. Jadi, setiap orang harus menyucikan diri dan lingkungannya, karena hal tersebut akan mendukung pelaksanaan Nyepi. Prosesi ini digelar seminggu sebelum Nyepi atau maksimal dua hari sebelum Nyepi.
Kedua, Tawur Kesanga. Yakni penyelasaran atau harmonisasi dari lima unsur alam dan diri manusia (Panca Maha Bhuta). Dengan demikian, maka manusia akan dibantu dengan suasana kondusif untuk melakukan renungan. Tawur Kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan mati atau Tilem Sasi Kesanga yang tahun ini digelar pada Senin (27/3/2017).
Ketiga, Nyepi. Menyepi bagaikan kepompong yang mengisolasi diri. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan utama Nyepi yang intinya merupakan renungan, evaluasi atau intropeksi diri. Pada tahun ini Nyepi jatuh pada Selasa (28/3/2017).
Terakhir adalah Ngembak Geni. Yakni merupakan tahapan akhir dari renungan yang jatuh sehari setelah Nyepi. Ngembak Geni ini dikomunikasikan kepada para pihak dengan jalan memohon maaf (simakrama) dilandasi rasa tulus iklas. (BUDI YULIANTO/B-2)








