BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sejumlah pihak yang kerap menuding perkebunan kelapa sawit sebagai pemicu deforestasi, sebaiknya berpikir ulang, karena tanaman ini lebih banyak manfaatnya ketimbang 'mudlaratnya'. 

Perkebunan sawit selain dapat menjaga tingkat kesuburan tanah dan kualitas air serta mengurangi efek rumah kaca, juga menghasilkan oksigen ke udara.

Dengan daunnya yang rimbun dan lebar, pohon sawit memiliki tingkat efisiensi fotosintetis lebih baik. Dengan begitu, pohon sawit akan menghasilkan lebih banyak oksigen ke udara dan menyerap lebih banyak karbon dioksida dari atmosfer, demikian hasil studi yang dilansir MPOC.

Studi tersebut juga menyebutkan bahwa pohon sawit memiliki indeks area daun sebesar 5,6, sehingga perkebunan sawit bisa disetarakan dengan hutan tadah hujan.

Keunikan berikutnya dari pohon sawit adalah dapat mendukung tingkat efisiensi utilisasi lahan. Artinya, satu pohon sawit dapat menghasilkan minyak nabati jauh lebih banyak per hektare dibandingkan dengan tanaman lain, seperti jagung, kedelai, bunga matahari dan kanola. Sebuah studi perbandingan menunjukkan bahwa satu hektare tanaman sawit menghasilkan minyak 10 kali lebih banyak dibandingkan tanaman lain.

Menjaga keseimbangan energi adalah kemampuan berikut dari pohon sawit. Dibandingkan dengan tanaman lain yang dapat menghasilkan minyak nabati, penanaman dan pengolahan sawit membutuhkan lebih sedikit pupuk, pestisida, dan energi bahan bakar untuk menghasilkan satu ton minyak.

Sebuah studi menyebutkan pohon sawit membutuhkan sekitar 19,2 giga joules (GJ) energi per hektare per tahun untuk menghasilkan satu ton minyak, dan akan memberikan 182,1 GJ energi per hektare per tahun melalui produk minyak sawit. Kondisi ini membuat pohon sawit sebagai pilihan paling favorit dari sisi rasio energi input-output, yakni sebesar 9,5, dibandingkan 2,5 untuk kedelai dan 3,0 untuk minyak rapa. (NEDELYA RAMADHANI/m)