BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perancis menjadi salah satu negara di Uni Eropa yang kerap menyudutkan minyak sawit.

Tak hanya para tokoh politik, LSM lingkungan dan produsen minyak nabati setempat seperti kompak menyerang produk berbasis minyak sawit yang masuk ke negeri mereka. Tujuannya jelas, yakni untuk membuat produk minyak sawit menjadi kalah bersaing dengan produk minyak nabati lokal.

Malaysia bersama Indonesia termasuk negara yang dengan tegas menentang upaya kampanye hitam terhadap sawit di Benua Biru.

Nah, pekan ini Presiden Perancis Francois Hollande akan mengunjungi Malaysia dan juga Indonesia.

Menurut laporan media Perancis, seperti dilansir The Star, Senin (27/3/2017), selain aspek bisnis dan pertahanan, agenda kunjungan Hollande di Malaysia juga akan dimanfaatkan untuk menjelaskan soal industri sawit yang sudah berkelanjutan. Hollande juga diharapkan memberikan dukungan atas standar dan sertifikasi sawit Malaysia, yakni MSPO.

Selain itu, Hollande juga diharapkan berkomitmen bahwa Perancis tidak akan menerapkan pajak terhadap minyak sawit. Hal itu sesuai dengan apa yang ditegaskan mantan perdana menteri dan sekarang Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Marc Ayrault pada 2013 silam, yang berjanji Perancis tidak akan menerapkan pajak atas minyak sawit.

Sebagai produsen sawit terbesar dunia, Indonesia hendaknya juga tak kalah tegas dengan Malaysia dalam upaya melindungi komoditas andalan ekspor ini di pasar Uni Eropa.

Seperti yang ditegaskan oleh pemerintah Indonesia beberapa waktu lalu bahwa kebijakan negatif terhadap produk minyak sawit, bisa saja akan dibalas dengan tidak lagi membeli pesawat Airbus oleh maskapai penerbangan nasional.

Rencananya Presiden Hollande akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu mendatang (29/3/2017). (NEDELYA RAMADHANI/m)