BORNEONEWS, Palangka Raya - Sarinatun, ibu rumah tangga berusia 40 tahun harus berjuang untuk bertahan hidup dengan keterbatasan ekonomi. Tinggal di sebuah gubuk berdinding terpal dilapis plywood yang sudah rapuh di Jalan Hiu Putih VIII, istri dari Samsuri (34) itu juga harus mengurusi empat anaknya.

Dua anaknya berstatus pelajar SMP, sedangkan dua sisanya masih berusia 4 tahun dan 1 bulan. Hari-harinya, Sarinatun hanya mengurusi anak di gubuk tersebut. Sedangkan sang suami, bekerja serabutan yang penghasilannya sangat pas-pasan. Bahkan terkadang kurang.

Tidak hanya itu, rumah reot dengan bagian dalam berantakan dan dapur beratap terpal yang mereka huni juga bukanlah milik Sarinatun atau suaminya. Mereka hanya numpang punya orang lain dengan membayar biaya sewa Rp50 ribu per bulan.

"Sebenarnya anak saya ada lima. Satunya di Marabahan (Kalimantan Selatan)," kata Sarinatun, Selasa (28/3/2017).

Ia menuturkan, penghasilan suami dalam satu hari tidak menentu. Terkadang bisa dapat Rp100 ribu tapi paling sering jauh dari nominal itu. Di tengah keterbatasan ekonomi tersebut, Sarinatun sempat merasakan kesusahan ketika proses persalinan anak bungsunya.

"Sempat kurang dananya, tapi sekarang sudah dibayar (ada donatur yang membantu)," ungkapnya.

Sebenarnya, Sarinatun ingin memiliki tempat tinggal pribadi dan layak. Namun karena keadaan saat ini, perantau asal Jawa Barat bersama suami dan anak-anaknya terpaksa berjuang dalam keterbatasan. (BUDI YULIANTO/B-3)