BORNEONEWS - Pernyataan demi pernyataan yang bersifat pesimistis terhadap kondisi bangsa ini seolah tak pernah habis dilontarkan oleh banyak orang. Kesedihan terhadap kondisi kesejahteraan, moral, budaya, kadangkala terdengar paling sering menjadi topik yang hangat untuk dibahas.

Tidak hanya itu, pemerintah yang notabenenya sebagai pengurus sekaligus pengatur roda kehidupan di suatu negara, pasti ikut tersangkut kedalam pokok bahasan kaum pesimistis yang seolah selalu mengutamakan ego dan opini mereka tanpa mengindahkan sisi optimisme lain yang seharusnya mereka optimalkan.

Bila saja mulai detik ini kita bangga dan tidak lupa dengan yang dimiliki oleh Indonesia, seharusnya kita mulai menatap masa depan dengan percaya diri. Karena yakinlah bahwa kita masih memiliki peluang untuk memajukan bangsa dan negara ini dengan cara dan modal yang kita miliki sendiri.

Anugerah Geografis yang Strategis

Masih terngiang dengan jelas, salah satu pelajaran ilmu pengetahuan sosial dalam mata pelajaran geografi di kursi sekolah dasar atau SD, yang membahas kestrategisan posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Letak astrnomis Indonesia berada di 60 lintang utara hingga 110 lintang selatan dan antra 950 bujur timur – 1410 bujur timur. Sedangkan letak geografis Indonesia berada di antara dua benua yakni Asia dan Australia, serta samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Hal inilah yang membuat bangsa Indonesia kaya akan budaya dan sumber daya alam. Di mana negara yang dikenal dengan Zamrud Khatulistiwa ini adalah tempat pertemuan dan persilangan segala macam budaya dan perbedaan, bersatu padu, berasimilasi, hingga berakulturasi menciptakan sebuah kekayaan perbedaan yang tiada tara serta tidak dimiliki oleh bangsa dan negara lain. Terlebih dengan keberadaan Indonesia di wilayah persilangan laut dunia, yang secara tidak langsung telah mewariskan sebuah julukan Poros Maritim Dunia.

Indonesia Memiliki Tambang Emas Terbesar di Dunia

Perancis dan Amerika merupakan dua negara yang dikenal memiliki cadangan emas bawah tanah terbesar di dunia. Kebijakan pemerintah mereka untuk mencadangkan emas yang mereka beli dari negara lain, semata-mata bertujuan hanya untuk mengkontrol kondisi perekonomian bangsanya bila sewaktu-waktu kedua negara tersebut mengalami krisis hingga resesi ekonomi.

Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun kadangkala manajemen negara ini belum seoptimal sesuai ekspektasi masyarakatnya, dan juga belum memiliki ruang bawah tanah sebagai tempat cadangan emasnya, namun ketika krisi ekonomi global seperti tahun 2008 dan 2016, apakah negara ini kolapase seperti apa yang terjadi di Amerika dan Eropa?

Betapa kuatnya posisi dan cadangan emas Indonesia yang hingga detik ini belum tereksplorasi serta masih menjadi harta karun terpendam bagi anak cucunya.

Cadangan Gas Alam Indonesia Unlimited

Selain emas, negara Indonesia juga memiliki anugerah yang tidak ternilai harganya. Seperti halnya Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah sepeti Iraq dan Iran yang terkenal dengan emas hitamnya, ternyata negara seribu kepulauan ini juga memiliki hal yang sama. Jumlahnya pun fantastis, tersebar di beberapa blok yang kiranya masih belum diproses dan dieksplorasi, seperti Blok Natuna, Blok Masela, dan beberapa blok di kawasan laut luar Samudera Hindia yang hingga saat ini belum terjamah 'sama sekali'.

Bisa dibayangkan bagaimana jika putra-putra bangsa ini sadar dan mampu untuk mengeksplorasinya secara mandiri di atas kaki sendiri?

Hutan Hujan Tropis, Berjuta Fauna dan Flora

Berbicara mengenai hutan, berdasarkan data terakhir dari Dinas Kehutanan Indonesia tahun 2016, luas hutan negara ini yang tersebar dari Sabang hingga Marauke sekitar 133 juta hektare. Jumlah yang sangat fantastis karena tidak semua negara memiliki hal yang demikan. Wajar saja bersamaan dengan beberapa negara Amerika Latin seperi Paraguay dan Brasil, Indonesia merupakan salah satu negara yang dijuluki sebagai paru-paru dunia.

Tidak hanya itu, telaahan mendasar kehidupan di dalam hutan Indonesia juga tidak kalah menajubkan. Di mana berbagai macam flora dan fauna mulai dari terkecil hingga terbesar, mulai dari yang umum hingga yang langka, hidup mandiri dan berkembang sedemikian alaminya di beberapa hutan lindung yang dimiliki oleh bangsa ini. Membanggakan bukan?

Kekayaan Laut Tiada Tara

Tidak perlu khawatir untuk mencari spot snorkling dan diving di negara maritim Indonesia. Negara yang memiliki perbandingan luas laut sekitar 3:5 dengan daratannya ini, memiliki keindahan alam yang tiada tara di dalam lautnya.

Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan daratan Asia lainnya, di mana banyak dari laut mereka hanya dihiasi dengan alga dan plankton-planton beraneka warna.

Namun bagaimana dengan Indonesia?

Harus dikatakan bahwa negara ini memiliki keindahan laut lebih dari itu. Ber-snorkling di Ujung Barat Sabang, hingga diving di Ujung Timur Raja Ampat, sudah dipastikan akan memberikan sensai dan memori berbeda yang tidak akan pernah terlupakan oleh orang-orang yang pernah mengunjunginya.

Keindahan laut beserta biotanya, seolah tidak pernah habis menghiasi keindahan bangsa ini. Berbagai macam jenis ikan dan terumbu karang, mulai dari yang umum hingga terlangka, dapat dinikmati dan dilihat secara langsung di negara yang dijuluki sebagai 'Atlantis' dunia ini.

Tanah Subur untuk Negara Makmur

Peribahasa bahwa tongkat kayu saja bisa hidup di tanah Indonesia, bukanlah sebuah pembualan semata. Kekayaan unsur hara yang dimiliki oleh tanah hujan tropis memang berbeda dengan unsur hara tanah yang dimiliki oleh negara-negara substropis hingga beriklim dingin seperti halnya di Eropa dan Amerika Utara.

Banyaknya gunung berapi sehingga dijuluki dengan negara 'Ring of Fire' adalah salah satu penyebab luasan dan struktur tanah negara ini begitu subur dan bersahabat bagi tanaman. Hanya di Indonesia, tempat di mana berbagai macam jenis flora tumbuh subur tanpa harus disemai pupuk, serta tumbuh bervariatif dengan berbagai macam jenis.

Heterogenitas Suku dan Budaya

Sering ditemukan dikehidupan sehari-hari, terkait perbedaan cara interaksi dan dialektika masing-masing masyarakat Indonesia. Ada yang berbahasa Jawa, Bugis, Komering, Aceh, Minang, Papua, dan masih banyak lagi cara dan tata bahasa yang dimiliki oleh penduduk negara ini.

Terlebih dengan rasa toleransi dan nikmat kebersamaan yang begitu kuat di dalamnya. Perbedaan yang rawan akan perpecahan tersebut malah justru menjadi poin tersendiri yang menyatukan bangsa ini.

Tengoklah beberapa negara di luar sana, ketika hanya sebuah aliran keagamaan memiliki cara dan tata krama yang berbeda, memberikan dampak terhadap meninggalnya beribu-ribu nyawa yang tidak berasalah.

Lantas masih banggakah kita selaku masyarakat yang memiliki jiwa toleransi dan rasa saling hormat menghormati antarpenduduk negeri?

Masihkah kita ingin mengindonesiakan Indonesia dengan persamaan beberapa negara lain layaknya negara sekuler ataupun modern? Karena yakinlah bahwa kemajuan Indonesia berdiri di atas toleransi dan caranya sendiri.

Memiliki Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika

Ketika beberapa bangsa masih disubukkan dengan perbedaan ideologi dan prinsip falsafah dasarnya, Republik Indonesia telah diwariskan oleh para leluhur dan founding fathers-nya dengan dasar dan pondasi begitu kuat dan berbeda.

Pancasila dan Bhinnekka Tunggal Ika, merupakan satu-satunya jenis ideologi dan semboyan yang dimiliki sebuah bangsa di dunia ini.

Bukan komunis apalagi liberal, Pancasila merupakan salah satu aspek yang semestinya kita agung-agungkan. Bukan malah justru dijatuhkan apalagi dicaci maki. Sejarah Pancasila serta peranananya sebagai dasar negara ini memang harus selalu dihanturkan. Ketika Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan, disatukan menjadi satu negara kesatuan Republik Indonesia, itulah yang membedakan dan menjadi titik keunikan negeri ini dari negera yang lain.

Oleh karena itu, berpikirkah kita bahwa hanya di negara ini hal-hal di atas dapat kita temukan? Meskipun belum maju dari sisi teknologi dan ilmu pengetahuan, tapi kita jangan merasa minder apalagi pesimis terhadap kondisi bangsa dan negara ini.

Indonesia masih berpeluang maju kok, tinggal kita saja bagaimana mau tidak maunya kita memperbaiki perlahan demi perlahan sendi-sendi ke-Bhinnekaan bangsa ini yang mulai dirasuki dengan pengaruh-pengaruh serta paham radikal dan ekstrimis.

Banggalah kalian dengan Indonesia sebagaimana mestinya, bukan malah justru mencederainya.

Oleh: Ardian Wiwaha, Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia