BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pendapatan PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun lalu turun 2,8% sebesar Rp2,91 triliun dibandingkan 2015 yang mencapai Rp2,99 triliun.
Bahkan laba bersih perseroan sepanjang tahun lalu melejit 78,48% dibandingkan tahun sebelumnya, yakni Rp442 miliar berbanding Rp247,57 miliar.
"Kinerja apik yang ditunjukkan perusahaan tidak lepas dari cemerlangnya kinerja di kuartal IV tahun lalu. Pada kuartal akhir tahun lalu, kami mencatat peningkatan pendapatan yang cukup menggembirakan," kata Head of Investor Relation Sampoerna Agro, Michael Kesuma, kepada pers di Jakarta, Kamis (30/3/2017).
Lonjakan pendapatan perusahaan dengan kode emiten SGRO ini pada kuartal IV tahun lalu itu berkat peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) perseroan menyusul berakhirnya efek kemarau panjang El Nino 2015. Kedua, melambungnya harga CPO global yang berhasil menembus di atas US$750 per ton juga menjadi pendorong performa apik perseroan.
"Pada kuartal keempat tahun lalu, produksi minyak sawit kami mencapai level tertinggi di sepanjang tahun," papar Michael.
Sampoerna Agro melaporkan telah memproduksi Tandan Buah Segar (TBS) pada kuartal IV 2016 sebesar 748.859 ton. Jumlah ini meningkat 199% dibandingkan triwulan sebelumnya, dan produksi TBS ini memberi kontribusi 50% dari total produksi tahun lalu.
Selain produk CPO, peningkatan laba juga ditopang oleh peningkatan produk minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO). Permintaan PKO meningkat sehingga harganya melambung.
Sepanjang tahun lalu, 75% pendapatan perusahaan tersebut berasal dari penjualan CPO, sedangkan 25% sisanya berasal dari pendapatan pajak tangguhan, hasil dari inisiatif revaluasi aset, dan laba tambahan dari divestasi anak perusahaan, yakni PT Pertiwi Lenggara Agromas.
Pada tahun ini, SGRO berencana memperluas ekspansi lahan sawit seluas 4.000 hingga 6.000 hektare (ha) dan ekspansi lahan karet sebesar 2.000 ha hingga 3.000 ha. (NEDELYA RAMADHANI/m)








