BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Malaysia akan berunding dengan Indonesia pekan depan untuk menyikapi resolusi yang diajukan komite di Parlemen Uni Eropa terkait dengan minyak sawit dan deforestasi hutan.
Hal itu diungkapkan Menteri Perusahaan, Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong, seperti dilansir Bernama, Kamis (30/3)/2017).
Menurut Mah, resolusi tersebut akan menjadi hambatan perdagangan dan akan menganggu kinerja ekspor minyak sawit Malaysia dan Indonesia ke kawasan Uni Eropa.
“Resolusi itu juga akan mengacaukan upaya pemerintah Malaysia dalam mengembangkan industri sawit berkelanjutan, terutama untuk memastikan produk sawit memenuhi sertifikasi MSPO,” katanya.
Disebutkan pula bahwa Malaysia akan mengirimkan produk minyak sawit bersertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) pertama ke Eropa pada akhir tahun ini.
Sementara itu, Peraturan Presiden (Perpres) tentang Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dikatakan tidak akan buru-buru diterbitkan karena harus dibahas dalam konsultasi publik yang luas.
"Tiga isu dalam rancangan Perpres ISPO yang membutuhkan diskusi dan konsultasi publik seperti konteks sustainability yang belum jelas, prinsip dan kriteria (P&C) yang belum disepakati, dan tata kelola Komisi ISPO terkait mekanisme penyelesaian persoalan legalitas lahan," kata Wakil Ketua Tim Kerja Penguatan ISPO, Diah Suradiredja, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Perpres untuk penguatan ISPO tersebut ditargetkan terbit pada Januari 2017. Namun, meski telah selesai dibahas oleh Tim Penguatan, draf rancangan Perpres tersebut masih berada di pihak Kemenko Perekonomian.
Rencananya, ujar Diah, pihaknya akan menggelar konsultasi publik rancangan Perpres ISPO pada April dan Mei 2017, yakni di Riau (Sumatera), Samarinda (Kalimantan), Palu (Sulawesi), dan Manokwari (Papua). Konsultasi publik akan membahas ketiga isu tersebut kepada pihak terkait di daerah.
Untuk diketahui, kawasan Uni Eropa adalah pasar ekspor terbesar bagi minyak sawit dan produk turunannya asal Malaysia. Tahun lalu, Uni Eropa mengimpor 29,4% minyak sawit dari Malaysia dan 48,6% dari Indonesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








