BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bank sentral Inggris, Bank of England, memberikan angin segar bagi produsen minyak sawit setelah otoritas moneter Negeri Ratu Elizabeth itu menyetujui penggunaan minyak sawit untuk pembuatan bank note.

Bank note adalah uang kartal yang dikenal juga dengan istilah “devisa tunai” dan mempunyai sifat-sifat seperti uang tunai.

Adapun pembuatan bank note dengan memanfaatkan lemak dari minyak sawit itu sebagai imbas dari meningkatnya aksi protes dari kelompok vegetarian dan kelompok keagamaan karena bank note di Inggris dibuat dari lemak hewani yang dicampurkan ke dalam plastik sebagai bahan baku bank note.

Rencananya, seperti dilansir Telegraph.co.uk akhir pekan lalu, bank note baru yang menggunakan minyak sawit itu senilai £20, sedangkan note yang menggunakan lemak hewani selama ini senilai £5.

Bank of England mengatakan pemakaian minyak nabati untuk campuran plastik dalam pembuatan bank note itu lebih sebagai alternatif yang praktis dibandingkan lemak hewani, selain juga mudah didapat dan berbiaya rendah.

Otoritas moneter Inggris itu juga menyebutkan pemakaian minyak sawit untuk menggantikan lemak hewani akan menambah biaya produksi sekitar £5 juta dalam 10 tahun ke depan dari sekitar £300 juta yang dialokasikan.

Yang terpenting, kata Bank of England, minyak sawit memiliki rantai pasok yang luas dan menawarkan harga yang bersaing.

Bank of England telah mulai melakukan pengujian minyak sawit guna memastikan bahan tersebut memenuhi persyaratan teknis dan operasional. Pengujian tersebut dijadwalkan tuntas pada medio tahun ini.

De La Rue and Innovia Security, yang memproduksi bank note plastik senilai £5 dan £10, memiliki keyakinan tinggi bahwa minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan campuran plastik untuk pembuatan note senilai £20, yang akan diperkenalkan pada 2020. (NEDELYA RAMADHANI/m)