BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dengan tak henti-hentinya kampanye hitam atas minyak sawit Indonesia dan Malaysia oleh sejumlah kelompok di Uni Eropa, ada baiknya Indonesia mulai mengalihkan perhatian ke pasar Inggris.

Bukan tanpa alasan, kondisi keutuhan Uni Eropa yang mulai goyah seiring dengan keluarnya Inggris dari zona mata uang tunggal Eropa itu, yang juga digoyang oleh desakan serupa di Perancis dan Italia, maka pasar Inggris akan menjadi lebih 'seksi' ketimbang pasar Uni Eropa, demikian pernyataan seorang pelaku pasar di Jakarta, Senin (3/4/2017).

"Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa) menjadi momentum yang pas bagi pelaku industri sawit dalam negeri untuk melakukan penetrasi atau meningkatkan ekspor minyak sawit ke pasar Inggris," katanya.

Pernyataan pelaku pasar tadi tepat, terlebih sentral Inggris telah memberikan dukungan terhadap pemakaian minyak sawit sebagai bahan campuran plastik untuk pembuatan bank note jenis baru.

Sebelumnya, seperti diberitakan Telegraph.co.uk, Bank of England menyetujui penggunaan minyak sawit untuk pembuatan bank note. Bank note adalah uang kartal yang dikenal juga dengan istilah “devisa tunai” dan mempunyai sifat-sifat seperti uang tunai.

Adapun pembuatan bank note dengan memanfaatkan lemak dari minyak sawit itu sebagai imbas dari meningkatnya aksi protes dari kelompok vegetarian dan kelompok keagaamn karena bank note di Inggris dibuat dari lemak hewani yang dicampurkan ke dalam plastik sebagai bahan baku bank note.

Rencananya, bank note baru yang menggunakan minyak sawit itu senilai £20, sedangkan note yang menggunakan lemak hewani selama ini senilai £5.

Bank of England mengatakan pemakaian minyak nabati untuk campuran plastik dalam pembuatan bank note itu lebih sebagai alternatif yang praktis dibandingkan lemak hewani, selain juga mudah didapat dan berbiaya rendah. (NEDELYA RAMADHANI/m)