BORNEONEWS, Buntok - Alkisah, pada zaman dahulu, di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, ada seorang warga bernama Rinsin yang membuka ladang di kiri-kanan Sungai Barito. Ladang yang dia buka sering berpindah tempat.
Karena Sungai Barito memiliki siklus air yang sulit diprediksi, ladang Rinsin tidak selalu berhasil. Bahkan, tidak jarang ladangnya gagal panen akibat kebanjiran.
Menyikapi hal itu, Rinsin bersama istrinya Ayang, dan kedua anak mereka berpikiran untuk mencari tanah yang jauh dari Sungai Barito dan posisinya lebih tinggi.
Maka berlayarlah Rinsin sekeluarga dengan naik jukung (perahu) ke alur Sungai Parigi. Setelah cukup jauh, mereka singgah di Muara Sungai Bundung.
Singkat cerita Rinsin dan keluarganya membuka ladang di kawasan itu. Tanpa terasa mereka menetap di daerah itu waktu yang cukup lama, bahkan kelurga Rinsin pun bertambah dua orang lagi.
Kehidupan mereka di tempat itu sangat bahagia karena hasil panen melimpah-ruah, mulai dari padi, jagung, nanas, singkong, ubi jalar, dan lainnya. Melimpahnya hasil panen juga ditunjang hasil alam yang banyak. Bahkan ikan dan hewan buruan sangat mudah ditangkap.
Namun, pada suatu hari, istri dan keempat anak Rinsin jatuh sakit. Karena tempat tinggal mereka sangat jauh dari keramaian, Rintin berupaya mengobati istri dan anaknya dengan pitua (kemampuan supranatural) yang dirinya miliki. Hanya, penyakit itu tidak bisa disembuhkan.
Kendatipun demikian, Rintin enggan pasrah. Ia selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa mohon kesembuahan untuk keluarganya. Hanya itu usaha yang dia mampu lakukan dalam duka dan isak tangis lirih.
Dalam kesedihan itu, dia berpikir dosa apa yang telah dirinya perbuat? Kesalahan apa yang pernah dia lakukan kepada sesama? Khilaf apa yang ia dilakukan kepada alam, hutan, sungai, dan tempatnya mencari nafkah?
Setelah merenung secara mendalam, ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Hari berganti, minggu berlalu, dan bulan terlewati, namun penyakit yang diderita keluarganya tidak kunjung sembuh.
Siang dan malam Rintin selalu setia menjaga keluarganya. Suatu saat pada malam purnama, Rintin yang didera lelah amat sangat pun tertidur pulas. Ia lalu bermimpi didatangi gadis nan cantik berselendang ungu. Dalam mimpinya perempuan itu bidadari utusan dari Raja Kayangan.
Raja Kayangan berpesan kepada Rintin supaya jangan lagi bersedih. Sebab istri dan anak-anaknya akan sembuh asalkan dia mau mengikuti permintaan Raja Kayangan.
Raja berpesan agar Rintin menyucikan hatinya dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya bersedia tidak memakan makanan yang bisa busuk pada malam Jumat. Dan juga harus membawa anak istrinya ke pasir putih yang tidak jauh dari rumah mereka antara Sungai Bundung dan Sungai Gagarak.
Rinsin pun terbangun, dia sangat bimbang antara percaya dan tidak dengan mimpinya. Karena selama berpuluh tahun di tinggal di daerah itu baru kali ini mendengar ada pasir putih. Lalu, dia memutuskan tidak ke daerah yang disebutkan bidadari utusan Raja Kayangan dalam mimpinya.
Tetapi, ia terus bermimpi serupa selama tiga malam berturut-turut. Maka pada Jumat malam, dia akhirnya pergi juga ke tempat yang disebutkan dalam mimpinya.
Sesampainya di sana, ternyata pasir putih atau janah tarawa merupakan tanah bersinar. Karena tempat itu merupakan hamparan pasir. Setelah tiba ternyata banyak kerumunan orang yang telah menunggu mereka.
Tidak berapa lama terdengar namanya dipanggil. Rintin pun segera membaringkan anak dan istrinya di tempat yang telah disediakan oleh para Dewa tersebut.
Kerumunan orang yang ternyata Dewa-Dewi dari kayangan lalu menari mengelilingi istri dan anak Rintin. Sungguh ajaib dan luar biasa, istri dan anak Rintin langsung sembuh saat itu juga. Bersambung.........(URIUTU DJAPER/B-3)








