BORNEONEWS, Buntok - Setelah istri dan empat anaknya sembuh dari sakit, Dewa-Dewi lalu menyerahkan babun (gendang) kepada Rintin. Mereka kemudian mengajari Rintin cara memainkannya. Demikian pula putra tertua Rintin diserahi rebab dan putra ketiga diserahi agung (gong) serta diajari pula cara memainkannya. Sedangkan dua anak perempuan Rintin diajari menari.
Dalam waktu singkat mereka pun bisa memainkan alat musik yang diperoleh. Demikian pula dua anak perempuan Rintin mampu menari dengan indah.Sebelum Dewa-Dewi tersebut pulang ke kayangan, mereka berpesan kepada Rintin dan keluarga, “Apabila keluarga, handai tolan dan orang lain lagi sakit datanglah ke Janah Tarawa, mainkan alat musik yang diberikan dan menarilah seperti yang diajarkan.
Tidak kalah pentingnya, ada syarat yang tidak boleh dilanggar. Bila dilanggar tuah (ajaran yang diberikan ini) akan hilang.
Larangan itu yakni jangan berzina, dilarangan membawakan makan yang bisa basi apalagi busuk, pantang memakan makanan bekas orang mati, dan dilarang keras makan acan (terasi).
Sejak saat itu, kisah gaib keluarga Rintin tersebar ke mana-mana. Istrinya pun menjelma menjadi dukun sakti yang mampu menyembuhkan berbagi penyakit dengan tari pengobatannya.
Karena itu, harkat dan martabat keluarga Rintin semakin meningkat. Selain itu, alunan musik dan tarian keluarganya semakin populer.
Lama kelamaan tarian magic itu dikenal luas oleh masyarakat pantai Barito sebagai Tari Ritual Badewa. Karena terkenal seantero Kalimantan sebagai dukun sakti dan menajadi orang terpandang, keluarga Rintin membangun rumah besar bertiang tinggi yang dikenal dengan sebutan mahligai.
Mahligai itu bukanlah rumah tempat tinggal, melainakan rumah pemujaan. Setiap malam keluarga Rintin selalu menyempatkan diri bersembahyang untuk mempersembahkan sesajen kepada Dewa-Dewi di kayangan.
Waktu terus berjalan dan usia semakin bertambah, kendatipun demikian Rintin dan keluarganya selalu bersembahyang menunaikan bakti di mahligai nan megah tersebut.
Namun, pada suatu hari, entah karena lalai atau lupa, Rintin khilaf lalu melanggar pantangan yang telah ditaatinya. Di hari nahas tersebut, dia membuat sesajen tercampur lemak babi.
Setelah sesajen dipersembahkan, seperti biasanya para Dewa-Dewi turun dari kayangan menemui keluarga Rintin.
Namun, karena sesajen tercemar pantangan yakni lemak babi, para Dewa memutuskan hubungan dan menyatakan hari itu sebagai hari terakhir menampakkan diri kepada keluarga Rintin.
Para Dewa berpesan kepada keluarga Rintin, bahwa hubungan mereka masih bisa dilanjutkan, tapi harus dilakukan di tempat lain, karena Janah Tarawa sudah tercemar oleh pantangan.
Sejak kejadian nahas itu keluarga Rintin kehilangan kesaktian mereka. Dan sejak itu pula Rintin sekeluarga menjalani hidup sebagai orang biasa yang saban hari berladang dan bertani.
Meskipun demikian, mereka tetap saja mengamalkan ajaran para Dewa sambil mengembangkan seni Badewa walaupun sudah tidak lagi memiliki kesaktian dan hubungan khusus dengan para Dewa. (URIUTU DJAPER/B-3)








