BORNEONEWS, Sampit - Kabar gembira bagi petani kepala di Kotawaringin Timur (Kotim) karena setelah sempat terpuruk dalam beberapa tahun terakhir akibat maraknya kelapa sawit, kini, harga kopra atau kelapa terus naik, bahkan mencapai Rp10.000 per kilogram (kg).

Naiknya harga kopra akibat minimnya pasokan dari petani ke pengepul atau pabrik. Sehingga pengepul menaikan harga supaya para petani banyak yang menjual kopra daripada menjual kelapa biji.

“Sudah beberapa minggu ini harga kopra naik, dan ini merupakan yang terbesar daripada sebelumnya,” ujar Zainal, salah satu petani kelapa yang berada di Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit, Kotim, Senin (3/4/2017).

Sebelumnya, harga kopra hanya Rp4,5 ribu hingga Rp7 ribu per kg. Namun kini mengalami kenaikan menjadi Rp10.000 ribu per kg.

Kenaikan tersebut sudah berlangsung lama. Namun, belum banyak petani yang menjual kopranya karena mereka lebih memilih menjual buah kelapanya saja.

"Kami berpikir bahwa akan lebih mudah menjual kelapa tua, dibanding harus mengolahnya dulun menjadi kopra," kata Zainal.

Menurut Zainal, untuk mengolah kelapa menjadi kopra banyak tahapannya, dan setiap tahapan juga butuh biaya. Di mana mulai dari proses mengambil buah kelapa tua dari pohon, dilanjutkan mengupas atau membuang serabut kelapa, membelah buah kelapa, mengeringkan kelapa dalam, hingga memisahkan kelapa dalam yang sudah kering dari tempurungnya.

Setelah hal tersebut dilakukan, barulah kelapa dalam itu bisa dijual ke pabrik kelapa yang berada di Desa Jaya Karet, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

"Jadi warga sini banyak yang memilih jual kelapa perbiji. Karena tidak terlalu capek, dan hasilnya cukup sebanding dengan penghasilan menjual kopra," terang Zainal. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)