BORNEONEWS, Palangka Raya - Kondisi inflasi Kalteng untuk Maret 2017 lebih tinggi dari Februari 2017. Kalteng bulan ini mengalami inflasi 0,58 persen dengan kumulatif tahun kalender sebesar 1,73 persen. Angka ini merupakan gabungan inflasi dari dua kota indikator sebesar 0,39 persen di Palangka Raya dan 0,92 persen di Sampit.

"Tren inflasi kita menunjukkan kenaikan. Karena itu tim kita harus lakukan langkah-langkah menanggapi dengan melihat komoditas pemicunya. Palangka Raya misalnya, harus memperhatikan harga cabai rawit," kata Kepala Bagian Bina Sarana Perekonomian Setda Kalteng, Suryadi, saat memimpin rapat tim pengendali inflasi daerah (TPID), Selasa (4/4/2017).

Penyebab inflasi, dipengaruhi terutama kelompok pengeluaran bahan makanan (1,48 persen) lebih spesifik lagi adalah harga makanan jadi. Selain itu, ada beberapa harga komoditas yang tidak beranjak dari bulan sebelumnya.

Sebagai upaya pengendalian, lanjut dia, dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kalteng sudah melakukan kegiatan pemetaan daerah surplus dan minus untuk komoditas pangan terutama beberapa komoditas yang picu inflasi.

Di Kota Palangka Raya, lima komoditas teratas memicu inflasi adalah naiknya harga Cabai Rawit, tarif listrik, ikan bakar, daging ayam ras, serta bawang merah. Sedangkan di Kota Sampit, lima komoditas teratas pemicu inflasi adalah angkutan udara, daging ayam ras, cabai rawit, tarif listrik, dan rokok kretek. (ROZIQIN/B-6)