BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Seiring semakin derasnya tuduhan sebagai pemicu deforestasi hutan, pabrik pengolahan minyak sawit nasional hendaknya semakin menggalakkan teknologi terkini dalam pengolahan komoditas tersebut.

Berdasarkan kajian tim peneliti dari Wageningen University and Research, Belanda, dengan berinvestasi dalam teknologi tinggi untuk proses produksi minyak sawit dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga sebesar 80%. Selain itu juga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari pengoperasian pabrik serta meningkatkan pendapatan para petani petani sawit.

Sejumlah pabrik pengolahan minyak sawit di Indonesia yang dikaji tim peneliti dari Wageningen UR, telah melakukan pengkajian terhadap keberlanjutan (sustainability) teknologi tinggi yang dipakai. Teknologi tersebut berguna untuk menangkap emisi metana dari aliran limbah sawit (POME), yang akan dipakai untuk membangkitkan listrik sehingga tak lagi mengandalkan bahan bakar minyak. Tak cuma itu, penggunaan teknologi tinggi dalam produksi minyak sawit dapat meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat.

Dalam proses penangkapan biogas POME dan mengubah gas menjadi listrik, dengan sendirinya mendukung penurunan kadar emisi gas rumah kaca hingga 80% dibandingkan jika menggunakan praktik tradisional, yakni mengolah limbah di kolam-kolam terbuka.

Dukungan terhadap lingkungan semakin tinggi lagi bila kelebihan biogas yang ada dikompresi dan dan dimanfaatkan lagi ketimbang hanya membakarnya. Dan dengan memakai limbah POME untuk mengairi area tanaman sawit sekitar 5 hektare setelah proses penangkapan gas metana, maka itu akan mengurangi emisi gas rumah kaca dari bahan bakar minyak karena kebutuhan pupuk nitrogen semakin sedikit. (NEDELYA RAMADHANI/m)