BORNEONEWS, Sampit - Ada mitos dibalik permainan besei kambe, salah satu cabang lomba yang dikompetisikan dalam Festival Habaring Hurung di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Lalang, tokoh masyarakat Mentaya Seberang, menungkapkan mengapa perlombaan tersebut dinama besei kambe. Besei dalam bahasa Dayak diartikan dayung atau mendayung. Sedangkan kambe berarti hantu.
Kala itu, menurut lalang, ada salah satu warga yang meninggal dunia dan banyak warga lain yang melayat, begitu pula dengan makhluk halus. "Karena memang pada zaman dulu manusia dengan roh itu berteman," ujarnya, di sela perlombaan besei kambe di Kecamatan Seranau, Kamis (6/4/2017).
Pada saat itu banyak warga yang melayat menggunakan jukung. Karena memang jukung atau perahu kecil merupakan alat transportasi utama masyarakat Suku Dayak pada zaman dulu.
Anehnya, ketika semua orang bergegas pulang, di tengah sungai ada jukung yang tidak bergerak, baik ke hilir maupun ke hulu. Peristiwa itu berlangsung hingga petang. Pada paginya baru diketahui bahwa jukung itu digunakan dua makhluk halus. Namun mereka mendayung berlawanan arah karena memperebutkan jukung.
Hingga kini, cerita tersebut terus-menerus diwariskan dari generasi ke generasi Suku Dayak. "Sekarang dijadikan permainan dan diperlombakan untuk melestarikan kebudayaan," tuturnya.
Dalam Festival Habaring Hurung, lomba besei kambe diikuti 32 regu laki-laki dan 10 regu perempuan. Satu regu terdiri dari dua orang.
Sekilas lomba besei kambe seperti perlombaan tarik tambang. Bedanya besei kambe menarik lawan dengan mendayung. (NOOR ANNISA/B-3)








