BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Permintaan minyak sawit mentah (CPO) diprediksi akan menurun sehingga akan menambah tekanan terhadap harga komoditas tersebut hingga akhir tahun.
Chairman LMC International Ltd yang juga pakar industri sawit, Dr James Fry, mengatakan harga minyak sawit akan melemah ke kisaran RM2.250 per ton pada akhir tahun ini seiring dengan mulai pulihnya produksi setelah fenomena El Nino.
“Selain itu juga ada peningkatan produksi untuk minyak kanola, minyak kedelai dan minyak bunga matahari, terutama dari Argentina dan Brazil. Artinya, akan terjadi peningkatan suplai minyak nabati, termasuk minyak sawit, yang akan menambah stok CPO,” kata Fry seperti dikutip Bernama, Kamis (6/4/2017).
Fry juga menekankan bahwa isu terkini di Eropa terkait pengolahan minyak sawit yang berkelanjutan, juga akan mendukung turunnya permintaan terhadap komoditas ini.
Untuk diketahui, Parlemen Eropa telah mengadopsi resolusi yang menuntut hanya minyak sawit berkelanjutan yang bisa masuk ke pasar Uni Eropa setelah 2020.
Namun demikian, menurut dia, penurunan permintaan CPO bisa teredam dengan kemungkinan langkah Indonesia untuk menurunkan subsidi biodiesel untuk mandatori program biodiesel.
“Indonesia memiliki mekanisme di mana CPO Fund menggunakan pendapatan dari bea keluar CPO sebesar US$50 per ton dan US$30 untuk olefin sawit, dan dana itu dipakai untuk subsidi konsumsi biodiesel domestik," ucapnya.
Fry mengatakan mekanisme yang diadopsi Indonesia mungkin belum cukup untuk mengurangi melimpahnya stok CPO, tapi setidaknya langkah itu dapat membantu menahan kenaikan stok secara drastis. Untuk itu, ia menyarakan Malaysia dapat meniru langkah Indonesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








