BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Indonesia sepertinya harus sering-sering 'mengintip' strategi Malaysia dalam membuka pasar bagi minyak sawit, terutama ke Tiongkok yang didominasi minyak nabati berbasis kedelai dan rapeseed.

Meski konsumsi minyak kedelai dan rapeseed telah menekan permintaan terhadap minyak sawit dalam beberapa bulan terakhir, namun tingginya permintaan atas minyak nabati di Negeri Tirai Bambu itu perlu disikapi dengan cermat.

Contohnya adalah giatnya pemerintah Malaysia melalui Malaysian Palm Oil Council (MPOC) untuk terus mencari celah pasar di Negeri Tirai Bambu. Chief executive officer MPOC, Dr Kalyana Sundram, seperti dikutip Bernama, mengatakan bahwa di tengah menurunnya impor minyak sawit dari Tiongkok belakangan ini, tapi di sejumlah wilayah pedalaman dan pantai, permintaan terhadap minyak sawit lumayan besar.

“Sebagian besar minyak sawit yang dipasok ke Tiongkok tidak menyentuh kawasan pedalaman dan pantai. Padahal penduduk di kawasan tersebut tinggi, hanya saja masih terkendala dengan masalah logistik,” ucapnya.

Menurut Kalyana, untuk memfasilitasi upaya menembus pasar di pedalaman dan pantai di Tiongkok, MPOC berencana meluncurkan berbagai kegiatan promosi agar penduduk di negeri itu memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati.

Kondisi di Malaysia setali tiga uang dengan Indonesia terkait dengan volume ekspor minyak sawit ke Tiongkok. Ekspor minyak sawit Indonesia ke Tiongkok anjlok hingga 48% pada Januari 2017 menjadi 316,75 ribu ton, dibandingkan kinerja Desember 2016 yang sebesar 612.21 ribu ton. Penurunan drastis itu terjadi karena perubahan strategi perdagangan Tiongkok.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan, Tiongkok sedang gencar melakukan pembelian kedelai dari Argentina untuk mengisi stok di dalam negeri dan mengambil kesempatan sebelum harga kedelai naik. Diperkirakan, penurunan panen kedelai di Argentina akibat cuaca buruk.

"Penurunan permintaan minyak sawit dari Indonesia juga dicatatkan oleh negara-negara Timur Tengah sebesar 29%, kemudian Amerika Serikat sebesar 21%," kata Fadhil dalam keterangan tertulisnya beberapa waktu lalu.

Jika Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan Malaysia, bukan tak mungkin penurunan ekspor minyak sawit ke Tiongkok bisa diredam seraya tetap mencari pasar-pasar baru di kawasan lain.