BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja apik tahun lalu dengan pendapatan meningkat 8,1% dibandingkan periode yang sama 2015 menjadi Rp14,12 triliun.
"Kenaikan pendapatan membuat laba bersih yang dikantongi perseroan sepanjang tahun lalu melesat signifikan lebih dari 216%. Kenaikan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sepanjang tahun lalu menjadi penopang kenaikan laba." kata Presiden Komisaris Astra Agro Lestari, Widya Wirawan, di Jakarta, Rabu (12/4/2017).
Kenaikan laba perseroan pada 2016 un lalu, menurut Widya, terdorong oleh dua faktor. Pertama, efisiensi biaya operasional perusahaan, dan kedua adalah keuntungan dari selisih kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Secara produksi, kami memang turun karena faktor cuaca yang tidak tentu, tapi bisa ditutupi dengan kenaikan harga CPO sebesar 11,4% sepanjang tahun lalu," papar dia.
Widya menilai, kinerja apik Astra Agro sepanjang tahun lalu membuat perseroan optimistis menatap bisnis tahun ini. Sejumlah agenda ekspansi juga akan dilakukan perusahaan ini, khususnya di sektor perkebunan.
"Pada tahun ini, perseroan berharap produksi tandan buah segar (TBS) dan CPO bisa kembali normal, seperti produksi 2015. Kami sudah cek ke Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), perkiraannya tahun ini, semoga tidak terjadi panas berkepanjangan dan hujan berkepanjangan," ujar Widya.
Astra Agro berencana membangun dua pabrik baru pada 2017. Pertama, pabrik pencampuran pupuk (fertilizer blending plant) dan pabrik penyulingan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO) dengan investasi senilai Rp300 miliar.
Pabrik fertilizer blending plant berkapasitas 100.000 ton per tahun ini akan dibangun di Kalimantan Tengah. Sedangkan pabrik PKO dibangun di Sulawesi dengan kapasitas produksi 400 ton per hari.
Pembangunan pabrik PKO diperkirakan membutuhkan Rp200 miliar, sisanya sekitar Rp100 miliar untuk pabrik fertilizer blending plant. AALI juga berkomitmen pada tahun ini untuk meneruskan program integrasi kebun sawit dengan peternakan sapi yang telah bergulir sejak 2014. (NEDELYA RAMADHANI/m)








