BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Niat hati ingin mencari tambahan penghasilan dan meramaikan kawasan Bundaran Pancasila Pangkalan Bun tiap malam, 'Pa' malah berurusan dengan Polisi.

Padahal, kesungguhannya untuk meramaikan kawasan Bundara Pancasila mendapat sambutan baik dari masyarakat. Ia menyediakan jasa wisata jalan-jalan keliling Bundaran Pancasila dengan sepeda yang dimodifikasi layaknya mobil PW atau dikenal mobil kodok.

Dihiasi lampu warna warni dan sound, sepeda mobil itu memiliki kursi empat penumpang. Meluncur dengan bertenaga kaki manusia dengan cara dikayuh menggunakan pedal yang tersambung di bawah kursi penumpangnya.

"Yang kami permasalahkan karena itu bukan termasuk jenis kendaraan bermotor. Dan itu beroperasinya di jalan raya. Mengganggu pengendara lain hingga menyebabkan kecelakaan," ujar Kasat Lantas Polres Kobar, AKP Asdini Pratama Putra, Kamis (13/4/2017).

Menurut keterangan dari Pa yang disampaikan Asdini, Pa membeli sepeda modifikasi tersebut dari Jawa sebanyak empat buah. "Bahwa usaha dia semata-mata untuk mencari tambahan dan tujuan menghidupkan Kota Pangkalan Bun," kata Kasat menceritakan kembali keterangan dari Pa.

"Pemilik sepeda itu tadi mengatakan sudah lama menunggu koordinasi dari pihak Satlantas dan Dishub agar bisa mendapatkan kejelasan. Dia mengaku rute mereka hanya di Jalan Pemuda saja, di luar dari itu dia siap untuk ditindak supaya tidak membahayakan pengguna jalan lain," katanya.

Sementara itu hasil pemanggilan Pa ke kantor Sarlantas Polres Kobar, Pa mendapat teguran dan peringatan untuk tidak mengoperasikan sepeda modifikasinya selain di Jalan Pemuda.

Sebab setiap malam, sepeda yang disulap layaknya mobil hias dengan balutan lampu warna warni itu menunggu pelanggan di seberang kampus Untama. Rutenya jika berkeliling di Bundaran Pancasila satu kali putaran dikenakan tarif Rp20 ribu. Sedangkan jika ke arah Jalan HM Rafii sampai depan Pangkalan Bun Park dikenalan Rp50 ribu. (CECEP HERDI/B-2)