BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tole dalam bahasa Jawa adalah panggilan sayang untuk anak laki-laki. Tapi tahukah food lovers Tole-Tole di Pangkalan Bun itu adalah sebutan untuk jajanan tradisional yang berwarna merah jambu dan rasanya manis dengan bentuk yang khas.
Tole-tole sekarang sudah jarang di temukan dipasaran. Beberapa bulan lalu saya pernah menemukan cemilan ini secara tidak sengaja di warung kecil di tepi Sungai Arut, tepatnya di kelurahan mendawai. Itu adalah saat pertama kalinya saya menemukan tole-tole setelah puluhan tahun tidak pernah melihat apa lagi memakannya.
Baru-baru ini saya berkesempatan menghabiskan waktu di tepi Sungai Arut. Cemilan itulah yang teringat! Wah, kesempatan untuk mencicipi tole-tole lagi.
Sungai Arut di sore hari memang menawarkan keunikan tersendiri. Banyak warga yang melakukan aktivitas di luar rumah. Mulai dari mandi, mencuci, bermain atau hanya sekadar mengobrol dengan tetangga.
Anginnya yang sepoi-sepoi membuat rasa gerah menghilang. Bagi warga pangkalan bun yang ingin bersantai setelah seharian bekerja, sungai arut bisa menjadi salah satu pilihan tepat untuk "refreshing" sejenak.
Tidak seperti biasanya, sore ini (10/4) terlihat banyak warga yang sedang memancing di tepi sungai. Mereka asik sekali menunggui tali pancing bergerak. Yang unik, ternyata tidak hanya laki-laki saja yang memancing di sini, tetapi juga ibu-ibu dan anak-anak. Wah seru sekali, memancing sambil mengobrol dengan tetangga dan menonton getek yang berlalu lalang mengantarkan penumpang.
Melihat warga asyik memancing, saya jadi penasaran. Ikan apa yang mereka dapatkan. Nasrul salah satu warga yang saya jumpai berbagi cerita, biasanya ikan yang didapat adalah ikan baung dan ikan lais. Wah, ikan lais itu favorit saya!
"Ikannya kecil-kecil. Bukan untuk dijual, untuk makan di rumah aja,” ujarnya.
Umpan yang dipakai Nasrul adalah kroto atau telur semut rang-rang yang dia beli dari pasar burung di Jalan Ratu Mangku. Nasrul menyarankan untuk memancing di sungai saat permukaan sungai tenang.
"Biasanya kalau permukaan sungai tenang seperti ini, ikannya banyak. Apalagi kalau habis air dalam" lanjutnya. Memang benar, beberapa waktu lalu permukaan air Sungai Arut naik hingga hampir mencapai rumah warga.
Lain halnya dengan Andri, laki-laki muda ini mengaku memancing adalah hobinya dan kebetulan pulang kantor lebih awal, Ia pun memutuskan untuk menghabiskan sore dengan memancing di tepi sungai arut. Kali ini saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut memancing, kebetulan Andri mempersilakan.
Umpan yang saya pakai adalah ulat daun pisang. Katanya umpan ini lebih awet. Benar saja, setelah dua kali mendapatkan ikan umpan saya masih bisa digunakan! Andri juga mengajari saya memancing.
"Kalau di pinggir sungai arut kedalamannya hanya 1,5 meter. Jadi kalau tali pancing kendur, berarti umpan sudah menyentuh tanah,” ujar Andri mengajari saya.
Wah jalan-jalan saya di tepi sungai arut kali ini sangat menyenangkan, menikmati wisata "human interest" sekaligus belajar hal baru seperti bagaimana menarik pancing saat umpan disambar ikan. Memang benar, warga di sekitar sungai ini sangat ramah!
Keasyikan memancing, membuat saya lupa tujuan utama ke Sungai Arut, berburu Tole-Tole! (WAHYU WULANDARI/m)








