BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sepertinya Tole-tole telah menjadi jajanan langka. Sudah lima kios Saya singgahi, tapi cemilan manis berwarna merah jambu ini belum juga Saya temukan. Setiap kali mata saya menangkap penganan berwarna pink, Saya berhenti dan bertanya apakah itu Tole-tole yang Saya cari. Ternyata bukan.
Satu lagi cemilan berwarna merah jambu yang dijual di tepian Sungai Arut, keropok basah. Setiap kios yang saya jumpai pasti menjual jajanan yang berbahan baku ikan dan tepung tapioka ini. Lama-lama saya menyerah juga. Keropok basah sepertinya enak juga.
Keropok basah atau dalam bahasa Indonesia adalah kerupuk basah merupakan jajanan khas kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara, dan Lamandau. Cemilan ini adalah bahan dasar membuat kerupuk sebelum dijemur.
Kerupuk basah biasanya disajikan dengan cara digoreng atau dibakar. Namun, bisa juga langsung dimakan karena kerupuk basah sudah dikukus atau direbus sebelumnya.
Kali ini saya mencicipi kerupuk basah goreng yang dibaluri telur goreng. Sedikit lebih unik dari kerupuk basah kebanyakan. Saya membeli dari salah satu pedagang yang menjajakan jualannya menggunakan gerobak dorong.
Pedagang yang tidak mau disebutkan namanya ini mengaku sering berjualan di pinggir sungai Arut.
"Saya tiap hari berjualan di sekitar sini. Banyak pembelinya," ungkapnya.
Pedagang tersebut menambahkan, kerupuk basah miliknya tidak menggunakan ikan, sebagai gantinya dibaluri dengan telur goreng. Harganya hanya Rp1.000 per tusuk. Murah meriah!
Meskipun tidak menggunakan ikan, kerupuk basah buatan pedagang ini tidak kalah nikmat dengan kerupuk basah lainnya. Rasanya gurih bercampur telur goreng yang juga gurih. Pilihan tepat untuk menunda lapar. Apalagi ditambah dengan pemandangan sungai arut di sore hari. Rasanya enggan beranjak dari tempat ini.
Lagi-lagi lupa dengan misi utama. Ah, sungai arut memang pandai mengalihkan pikiran saya. (WAHYU WULANDARI/m)








