BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah derasnya wacana pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ternyata sebagian sekolah masih mengeluhkan sulitnya menyiapkan sarana dan prasarananya.

Salah satunya dirasakan oleh pihak SMAN 1 Palangka Raya. Sekolah yang terletak di Jalan AIS Nasution itu pihaknya menghadapi sejumlah kendala dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukungnya.

“Kendati dari sisi siswa sudah siap melaksanakan UNBK, namun dari sisi sarana dan prasarana penunjangnya masih kurang,” kata Kepala SMAN 1 Palangka Raya Badah Sari, Selasa (10/1), di Palangka Raya.

Menurut Badah, komputer yang tersedia di sekolah itu saat ini hanya ada 50 unit, dengan dua ruang laboratorium. Jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah siswa peserta UN tahun 2017 yang lebih dari 400 orang.

Jika dipaksakan menerapkan UNBK, ia malah khawatir akan muncul masalah baru. Karena mengacu jadwal UN yang hanya berlangsung selama tiga hari, jelas sarana dan prasarana yang ada tidak mencukupi.

“Kalau dengan jumlah komputer yang masih minim saat ini, maka UNBK akan berlangsung sampai malam hari. Ini tentu tidak kondusif bagi siswa,” beber Badah.

Ia menilai, jika siswa terlalu dipaksakan, maka akan mempengaruhi kesehatan mereka. Secara tidak langsung akan mengganggu totalitas siswa dalam ujian, karena keterbatasan waktu.

Oleh sebab itu, Badah meminta Kemendikbud mengkaji ulang kebijakan mewajibkan pelaksanaan UNBK. Sebab, secara umum sekolah-sekolah di Kalimantan Tengah masih terganjal ketersediaan sarana dan prasarana. (DEWI KENCANA WATY/m)