BORNEONEWS, Palangka Raya - Ironis nasib Kristanto. Warga miskin ini tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal tempat tinggalnya hanya berjarak kurang dari 300 meter dari pusat pemerintahan Kota Palangka Raya. Ia bertahan hidup sebagai pemulung.

Kristanto bersama istri dan lima anaknya tinggal di sebuah rumah kayu berukuran 4x4 meter di belakang GOR Serbaguna Jalan Tjilik Riwut Kilometer 5 Palangka Raya. Sementara pusat pemerintahan Kota Palangka Raya berada di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 5.

Kristanto bahkan sudah puluhan tahun tinggal dan menjadi pemulung di Palangka Raya. Namun ternyata, amanat undang-undang bahwa dia merupakan tanggungjawab negara tak pernah benar-benar dirasakan pria 79 tahun ini.

Selama perjuangannya bertahan hidup di antara langkah cepat kehidupan di Kalteng, dan klaim-klaim pemerintah yang mengaku telah menanggulangi warga miskin, dia dan keluarganya tetap tak tersentuh. Jangankan dibantu, didata saja tak pernah katanya. "Belum pernah dapat bantuan, Mas, dari pemerintah," ujar Kristanto Minggu (16/4/2017) sore.

Kristanto memang tidak berharap mendapatkan banyak. Namun doanya yang tiap malam dia kumandangkan adalah, agar anak-anaknya tak merasakan kehidupan serupa kelak.

Untuk itulah dalam getir kehidupan dia berupaya agar putra putrinya dapat bersekolah. Meski lagi-lagi negara belum hadir dalam langkah nyata meringankan beban berat pria tua ini.

Satu hal yang dapat meringankan bebannya dan menyadari bahwa manusia yang benar-benar manusia masih ada ialah ketika sekelompok pemuda yang menamakan diri Komunitas Sosial FJB Palangkaraya datang. Komunitas ini memberikan sebagian dari rejeki mereka kepada keluarga ini.

Ada kasur kapas agar Kristanto bersama keluarganya bisa tidur nyenyak dan ketika bangun pinggangnya tak sakit agar segar untuk pergi memulung. Ada sepedamotor bekas agar bisa mengatar anak sekolah.

Ada sembako supaya uang Kristanto hasil memulung bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk merencanakan langkah kedepan. Ada sejumlah uang supaya bisa dibelikan buku atau alat tulis untuk anak-anaknya. (RONI SAHALA/B-10)