BORNEONEWS, Palangka Raya - Lembaga pendidikan nonformal di kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dinilai masih kurang memiliki optimisme untuk mendapatkan penilaian akreditasi. Hal itu diketahui dari masih rendahnya partisipasi pengelola lembaga untuk mendaftarkan lembaganya supaya divisitasi.

“Ya, kalau saya amati bahwa optimisme pengelola lembaga pendidikan nonformal dan informal di daerah ini masih rendah,” kata Ketua Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Prof H M Norsanie Darlan, kemarin, di Palangka Raya.

Padahal, menurut dia, program penilaian melalui visitasi akreditasi yang dilakukan oleh BAP PNFI merupakan penentuan jaminan kualitas lembaga pendidikan yang dikelola. Namun hingga saat ini pengelola lembaga yang mengajukan untuk divisitasi masih terbatas.

Menurut dia, tahun 2016, BAP PNFI Kalimantan Tengah telah melakukan proses visitasi terhadap 150 lembaga pendidikan nonformal, yang terdiri dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sebanyak 123 lembaga, lembaga keterampilan dan pendidikan (LKP) sebanyak sembilan lembaga, dan pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) sebanyak 18 lembaga.

Sedangkan tahun 2017, menurut Norsanie, pihaknya mendapat kuota akreditasi sebanyak 300 lembaga. Jumlah itu dinilai masih kecil dibandingkan dengan jumlah lembaga pendidikan nonformal yang ada di Bumi Tambun Bungai tersebut yang belum terakreditasi.

“Hingga saat ini masih ada sekitar 20.00 lembaga PNFI di kabupaten/kota masih belum mendapat penilaian akreditasi. Padahal, peringkat akreditasi sangat penting untuk memberi jaminan kepada masyarakat bahwa lembaga tersebut memiliki kualitas dalam penyelenggaraan pendidikan,” demikian Norsanie. (DEWI KENCANA WATY)