BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Peningkatan pencapaian program hilirisasi industri kelapa sawit pada akhir tahun lalu menjadi alasan Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi bertajuk Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests.

"Ekspor produk hilir industri minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) pada tahun lalu meningkat menjadi 70% dari 2015 sebesar 60%," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, di Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Sedangkan untuk ekspor produk hulunya, menurut Panggah, turun dari 40% menjadi 30%. Namun, untuk total nilai ekspor secara keseluruhan, baik hulu maupun hilir pada tahun lalu turun menjadi US$19,6 miliar dari 2015 sebesar US$19,77 miliar.

"Hal ini disebabkan harga CPO yang mengalami penurunan sepanjang tahun lalu. Produksi CPO sepanjang tahun lalu mencapai 33,5 juta ton, artinya kami merupakan produsen terbesar sawit di dunia dan bersama Malaysia sudah kira-kira 85% penguasaan sawit dunia," papar dia.

Dengan penguasaan pasar global, lanjut Panggah, membuat Uni Eropa terus menekan Indonesia.

"Kapasitas produk produk olahannya juga meningkat jika dibandingkan dengan 2015. Untuk biodiesel sendiri naik menjadi 12,8 juta ton dari sebelumnya 8,5 juta ton, bahan baku kosmetik meningkat menjadi 2,7 juta ton dari 1,5 juta ton, sedangkan minyak goreng sawit stagnan 45 juta ton" ujar Panggah. (NEDELYA RAMADHANI/m)