BORNEONEWS, Palangka Raya – Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi terhadap anak-anak kita. Siapapun mereka, pasti menginginkan buah hatinyasukses meraih cita-cita. Tentunya juga berharap tidak terjerumus dalam pergaulan bebas atau hal yang menjurus pada perbuatan tindak pidana.
Kadang, kita berpikir mau jadi apa kira-kira anak kita nanti? Kadang pula kita sangat khawatir saat dewasa nantinya anak-anak kita terbawa arus pergaulan yang mengarah pada hal negatif. Kekhawatiran mungkin saja lebih besar bagi orangtua yang memiliki anak perempuan.
Bayangan-bayangan tersebut tidak lepas karena kemajuan tekhnologi era sekarang ini berkembang cukup pesat. Dari sisi handphone, misalnya. Dulu, memiliki telepon genggam yang bisa digunakan untuk berkomunikasi saja sudah cukup. Bayangkan, sebelumnya, suatu masa, pernah ketika hendak menanyakan kabar keluarga di luar daerah kita ke warung telekomunikasi (wartel), untuk bertelepon interlokal.
Ya, kita tahu itu dulu. Dan benar lain halnya dengan saat ini yang serba canggih. HP dalam genggaman tangan sudah bisa mengakses segala bentuk informasi. Inipun tidak bisa kita pungkiri dan faktanya banyak anak-anak yang memiliki tetepon selular tersebut. Mereka kemudian memiliki akses dengan bebas ke media sosial, akun facebook, WhatsApp, twitter, instagram dan lain-lain.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sekarang memudahkan kita berkomunikasi dengan sanak keluarga. Terkadang juga bersyukur setelah sekian tahun tidak bertemu, rasa kangen dan saling tukar tanya kabar dilontarkan melalui media sosial.
Di lain hal, kemajuan tersebut juga menjadi kekhawatiran kita. Ya, harap=harap cemas anak-anak kebablasan dalam pergaulan. Kita takut luar biasa mereka akan terjerumus dalam dunia kelam yang mengarah pada perbuatan negatif.
Lantas, seperti apa peran keluarga dalam mendidik anak?
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Palangka Raya Baihaqi mengatakan, anak harus dibentengi dengan agama. Pendidikan agama bagi anak menjadi benteng utama untuk menghindari perbuatan negatif. Agama juga menjadi dasar supaya anak-anak menuju ke arah positif, menyikapi perkembangan era globalisasi yang pesat.
“Contoh, di era globalisasi dengan sistem informasi dan komunikasi yang semakin canggih ini, banyak media sosial yang kadang tidak mendidik. Sehingga terkadang anak terbawa arus. Nah ketika anak-anak didik diberikan benteng agama, maka mereka tidak akan terbawa arus ke arah yang tidak baik,” kata Baihaqi kepada Borneonews.co.id, Minggu (16/4/2017).
Dia menuturkan, di Indonesia juga ada pendidikan moral yang tertuang dalam Pancasila. Ini sangat penting diketahui karena kehidupan bangsa Indonesia memiliki kepribadian dan nilai-nilai luhur terhadap budaya. Apalagi era sekarang ini, banyak budaya asing yang merambah melalui sistem informasi.
Membentengi anak juga tidaklah cukup hanya mengandalkan suatu lembaga pendidikan semata. Keterlibatan orangtua tetap menjadi nomor 1 dalam memperhatikan tumbuh kembangnya sang anak.
“Tidak bisa kita berharap dari suatu lembaga pendidikan saja. Tetap ada peran orangtua. Orangtua di rumah juga harus betul-betul memperhatikan anak agar anak juga merasa mendapat perhatian penuh. Dengan demikian, tindakan yang cenderung ke arah negatif bisa terpantau orangtuanya,” bebernya.
Baihaqi mengingatkan, sesibuk apapun orangtua entah dari sisi pekerjaan, kesibukan kantor, urusan bisnis dan lain sebagainya, harus tetap meluangkan waktu buat anak.
“Anak-anak penting karena mereka adalah generasi penerus kita. Mereka harus kita arahkan, kita didik dengan baik. Kalau tidak, akan terjadi lost generation di Indonesia. Sebab mereka (anak-anak) terdidik tapi tanpa moral, tanpa perhatian orangtua. Inilah pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak,” jelas Baihaqi.
Baihaqi juga tidak memungkiri pergaulan anak era sekarang sangat mengkhawatirkan. Hal ini bisa diketahui dari berbagai informasi yang masuk baik melalui media cetak, online maupun elektronik. Ada yang ditangkap akibat melakukan pencurian, kasus peredaran gelap narkotika, obat-obatan terlarang hingga nekad melakukan perbuatan tindak asusila.
“Agama penting karena memang menjadi basic prinsiple. Nilai-nilai agama adalah prinsip dasar dalam pembentukan moral. Mau tidak mau kita harus membuat desain pendidikan yang memang bermutu dan mampu memberikan pendidikan moral kepada peserta didik kita,” katanya.
Menurut Baihaqi, semua pihak juga tidak bisa menghindari kekuatan informasi. Oleh sebab itu, cara yang paling kuat agar anak tidak terjerumus dalam dunia kelam, membentengi anak dengan agama. Dengan demikian, lanjut dia, anak-anak akan tahu mana yang halal dan haram.
“Kita juga harus memperkenalkan mereka bahwa pornografi itu haram. Zina itu haram. Itu sudah jelas dalam Alquran. Kalau mereka sudah memahami agama, mereka tidak akan membuka situs-situs yang pornografi,” katanya.
Dia menambahkan, agama harus ditanamkan kepada anak-anak. Sebab, jika anak-anak tidak mengerti agama, kepentingan biologis yang seharusnya belum saatnya diterima, bisa merasuk dalam diri mereka. Hal itu pula yang dapat mengakibatkan perilaku anak-anak ke arah yang negatif.
“Tidak ada jalan lain selain membentengi anak dengan agama. Moral juga menjadi bagian dari agama. Dan pendidikan agama itu sudah ada sejak dulu, yang menekankan, pendidikan agama adalah nomor 1,” katanya.
85 Persen Pendidikan Anak Ada Ditangan Keluarga
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Sahdin Hasan pada Rabu (19/4/2017) mengatakan, pendidikan terhadap anak merupakan tanggung jawab besama, baik dari sisi lembaga pendidikan, masyarakat dan orangtua. Namun porsi lebih besar berada pada tangan keluarga.
“85 persen ada di tangan keluarga. Karena anak selalu bersama keluarga atau orangtuanya,” katanya.
Menurut Sahdin, dalam memberikan pendidikan, orangtua dapat melakukan pendekatan supaya anak berakhlak mulia. Pendekatan agama, lanjut dia, merupakan jalan terbaik.
Dia juga menegaskan, semua mata pelajaran di sekolah mewujudkan anak-anak yang cerdas, sehat jasmani dan rohani. Oleh sebab itu, dia berharap para guru atau tenaga pendidik mampu memberikan pelajaran tambahan.
“Selain materi pokok, bisa juga mengintegrasikan mata pelajaran dengan pesan, masa depan bagi anak sangat penting. Sehingga kalau ada anak-anak tindakannya tidak membangun, kita ingatkan bahwa tindakannya itu hanya merugikan diri sendiri,” tuturnya. (BUDI YULIANTO/N).


