BORNEONEWS, Sampit - Perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat sejumlah kalangan masyarakat mudah mendapatkan informasi melalui berbagai sumber, dengan berbagai sarana maupun metode. Dengan adanya hal itu, maka sudah sewajarnya kewaspadaan harus ditingkatkan guna menyaring informasi yang didapat.

“Banyak pengaruh positifnya dengan adanya perkembangan teknolohgi ini, namun sisi negatifnya juga sama banyaknya. Sehingga hal negatiof tersebutlah yang harus diwaspadai,” ujar Kepala Bidang Kesenian, Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Mahmudah, Selasa (25/4/2017).

Salah satu dari sisi negatif tersebut adalah semakin meningkatnya akulturasi budaya barat dan timur. Yang pada suatu keadaan tertentu dinilai kurang sesuai dengan keadaan serta kehidupan di daerah ini.

Perubahan-perubahan ini tidak bisa dipungkiri menjadi pemicu semakin menipisnya sikap-sikap luhur yang dimiliki masyarakat sejak dulu. Salah satunya adalah budi pekerti.

Yang mana sikap budi pekerti ini sangat penting, karena dapat memberikan keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Karena berperan penting sebagai identitas dan budaya sebuah bangsa.

Selain itu, lanjutnya, setiap orang memiliki pemahaman dan penerapan budi pekerti yang berbeda-beda, maka moral setiap orang juga berbeda-beda. “Penilaian baik atau buruknya moral seseorang ini akan berdampak langsung kepada sebuah kelompok atau organisasi dan masyarakat. Yang akan menilai suatu tindakan itu bermoral atau tidak adalah orang lain atau masyarakat,” terang Mahmudah.

Menurutnya, moral berbeda dengan etika. Karena etika adalah suatu kebiasaan yang diterima pada suatu keadaan, kelompok, organisasi, atau masyarakat tertentu.

“Etika juga menilai baik buruknya sebuah akal pikiran seseorang yang kemudian berbuah pada suatu tindakan. Sumber penilaian ini adalah suatu norma yang berlaku di masyarakat,” kata Mahmudah. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)