BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pagelaran wayang topeng di Concert Hall taman budaya Yogyakarta tarian Malap Merinu asal Kabupaten Lamandau mendapat perhatian serius dari kalangan masyarakat dari generasi pendahulu yang concern dengan kesenian tradisional tersebut mampu memukau para penonton.

"Tarian Malap Merinu dalam kesenian wayang topeng memiliki eksistensi kesenian tradisi yang perlu dipicu dan diberi ruang untuk dipromosikan sebagai kekayaan budaya. Karena itu telah terbukti pada pementasan di Yogyakarta kemarin menarik perhatian penonton," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata setempat Frans Effendi, Kamis (6/4/2017).

Ia menyebutkan, dalam pagelaran wayang topeng 2017 tersebut, diikuti oleh beberapa daerah, yakni Magelang (Topeng Saujana), Yogyakarta (Megananda Jurit), Madura (Trijatha Kasemsem), Bali (Telek-Jauk), Malang (Asmaradana), Indramayu (Dermayon), serta Lamandau menyuguhkan tarian Malap Merinu.

Frans Effendi mengungkapkan bahwa kesenian topeng ini merupakan satu bentuk ekspresi seni paling tua yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia. Tari topeng memiliki peran besar sebagai simbol khusus dalam berbagai upacara dan kegiatan adat.

Selain itu, ujar Frans, pada malam penutup wayang topeng yang digelar selama dua hari dari tanggal 3-4 April 2017 di Yogyakarta. Tarian Malap Merinu asal Lamandau mampu menunjukkan kesempurnaan.

“Para penonton mengaku bahwa tarian dayak tumon dari pedalaman Kalimantan dapat menampilkan begitu atraktif dengan alur cerita yang unik dan menarik,” kata dia.

Ia menjelaskan, Malap Merinu dalam adat Dayak Tumon memiliki makna sebagai malam terakhir perkabungan yang secara harfiah. Malap Merinu memiliki tujuan mengurus adat simpati memulai perjalanan menuju sebayan tujuh dalam saruga (surga).

Frans berharap, tarian yang dibawakan dengan rangkaian cerita upacara adat warga dayak tersebut dapat menampilkan pertunjukan luar biasa.

“Semoga ini menjadi sebuah promosi yang efektif untuk memperkenalkan kebudayaan Kabupaten Lamandau,” harapnya. (HERIYADI)