BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sungai Batu di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat perlu dilakukan normalisasi. Sungai yang menjadi penyangga hutan adat di sekitarnya saat ini buntu dan tidak mengalir.

Padahal Sungai Batu sejak dulu merupakan sumber bagi masyarakat untuk keperluan mandi dan cuci juga untuk kegiatan lainnya seperti mandi Safar.

Warga menyebut aktivitas perkebunan menjadi faktor sungai yang sejatinya tidak pernah kering dan saat ini tidak lagi ada manfaatnya, terlebih pada musim kemarau kering kerontang.

Warga Desa Kubu, Astur terus berjuang menjaga kelestarian hutan terutama menjaga Sungai Batu agar tetap menghasilkan air untuk keperluan masyarakat.

Dia menjelaskan sejak dahulu warga pesisir pantai memanfaatkan sungai inisebagai lokasi mandi sapar yang dilakukan secara turun temurun.

"Hutan adat saat ini yang tersisa hanya bagian belakang pemukiman warga dan kami berharap agar pemerintah berperan aktif dalam menjaga kelestarian hutan dan keaslian dari Sungai Batu yang menjadi sumber air tawar bagi masyarakat," harap Astur, Jumat (28/4/2017).

Supiyan, warga lainnya mengatakan Sungai Batu mempunyai cerita panjang yang membekas dalam ingatan warga desa di pesisir. Dulunya Sungai Batu begitu indah dengan kejernihan airnya dan kerap digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan.

Menurutnya, Sungai ini dulu juga kerap menjadi tujuan warga Pangkalan Bun untuk melihat pemandangan ataupun menikmati kesegaran airnya.

"Karena fungsinya sangat vital maka kami berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan aliran sungai yang saat ini buntu agar di perbaiki," harapnya. (KOKO SULISTYO/B-6)