BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sambil menunggu hasil negosiasi antara Indonesia dan Malaysia dengan Uni Eropa terkait resolusi sawit, kedua negara itu harus segera mencari pasar ekspor baru.
Carl Bek-Nielsen, vice-chairman dan chief executive director di United Plantations Bhd., mengatakan bahwa langkah strategis perlu segera dilakukan oleh dua penghasil minyak sawit terbesar dunia itu untuk mengantisipasi penurunan permintaan minyak sawit akibat penerapan resolusi yang akan menghapus penggunaan minyak sawit sebagai bahan campuran biodiesel.
Bek-Nielsen, seperti dikutip The Edge Markets belum lama ini, menekankan bahwa untuk memenuhi standardisasi tunggal minyak sawit seperti yang dituntut Uni Eropa bukanlah hal mudah bagi kebanyakan penghasil minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. Pasalnya, mayoritas mereka adalah petani kecil alias petani plasma.
Menurut dia, saat ini diperkirakan hanya sekitar 20% minyak sawit mentah palm oil (CPO) yang diolah dengan standar tertinggi global, termasuk minyak sawit berkelanjutan terstandar (CSPO). Indonesia dan Malaysia menyumbang 90% produksi CSPO.
Sementara itu, dari 58 juta ton CPO yang diproduksi siap tahun, sekitar 12 juta ton adalah CSPO.
Meski angka itu terlihat kecil, katanya, tapi menarik karena Uni Eropa hanya mengimpor sekitar 7 juta ton minyak sawit setiap tahun dan hampir separuhnya dipakai untuk biodiesel.
Di atas kertas, sepertinya angka itu cukup untuk memenuhi persyaratan minyak sawit berkelanjutan dari Uni Eropa yang kian ketat. Tapi masalahnya, banyak petani kecil yang menghasilkan minyak sawit tak bersertifikasi, sehingga mau tidak mau mereka harus mencari pasar baru yang memiliki persyaratan tak seketat Eropa.
Sejauh ini, India dan Tiongkok masing-masing adalah pengimpor minyak sawit terbesar dan ketiga terbesar dunia dan di kedua negara itu sepertinya belum menetapkan standar yang ketat untuk minyak sawit. Jadi, memfokuskan pasar ekspor minyak sawit ke kedua negara tersebut merupakan langkah yang tepat, selain juga dibarengi dengan mencari pasar di kawasan lain. (NEDELYA RAMADANI/m)








