BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tak peduli Uni Eropa menerapkan standar berkelanjutan yang kian ketat, industri sawit tetap mengembangkan produk tanpa mengakuisisi lahan perkebunan baru.
Hal itu ditegaskan Datuk Carl Bek-Nielsen, vice-chairman dan chief executive director dari United Plantations Bhd., seperti dikutip The Edge Markets baru-baru ini.
Menurut Bek-Nielsen, industri kelapa sawit hanya tumbuh secara ideal dalam 10 derajat ke Utara dan Selatan dari garis khatulistiwa. Negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia sudah mulai mengurangi secara signifikan penggunaan lahan baru untuk pengembangan.
Bek-Nielsen menegaskan bahwa fokus industri sawit saat ini dan di masa mendatang adalah meningkatkan produktivitas, bukan lagi menambah area tanam baru.
"Saat ini, rata-rata produksi minyak sawit mentah (CPO) adalah sekitar 3,2 ton per hektare. Tapi kita harus dapat meningkatkan produktivitas tersebut. Beberapa perusahaan sanggup memproduksi 5 hingga 6 ton per hektare," ungkapnya.
"Tapi kebanyakan konsumen sering lupa bahwa dengan mendukung minyak sawit berkelanjutan, seperti bersertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), benar-benar berperan penting dalam meminimalkan dampak terhadap lingkungan di masa mendatang," ujarnya.
Masalah utama dari tanaman sawit adalah siklus hidupnya yang jauh lebih lama dibandingkan dengan tumbuhan untuk minyak nabati lain. Dengan demikian, potensi biaya untuk meningkatkan produktivitas bisa sangat tinggi, terutama karena tanaman sawit yang sudah ditanam butuh waktu sekitar tujuh tahun untuk matang atau siap berproduksi.
Tapi berbagai lembaga penelitian dan perusahaan pengolahan sawit terus berupaya menghasilkan varietas sawit unggulan. Juga dibarengi dengan menerapkan praktik pertanian yang baik guna mendongkrak produksi serta tak lupa mengadopsi sistem manajemen yang disiplin.
Bek-Nielsen menyatakan dari sisi pengelolaan dan pengolahan minyak sawit, mayoritas industri sawit di Indonesia dan Malaysia sudah menerapkan standar berkelanjutan.
Justru yang menjadi kendala utama saat ini, terutama di area perkebunan di Malaysia, adalah kurangnya tenaga kerja di lapangan. Selama ini banyak tenaga kerja di perkebunan sawit Malaysia diisi dari Indonesia. Namun belakangan mereka banyak kembali ke Indonesia karena perbedaan upah yang semakin menipis di antara kedua negara. (NEDELYA RAMADHANI/m)








