BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Untuk mendorong kepedulian pelaku industri sawit terhadap sertifikasi berkelanjutan, diperlukan kerjasama seluruh pemangku kepentingan dan bersifat lintas batas.
Itulah yang dilakukan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah asosiasi penerbit sertifikasi sawit berkelanjutan yang bermarkas di Swiss ini. Lembaga yang memiliki kesekretariatan di Malaysia ini akan melakukan langkah strategis demi memperluas cakupan praktik berkelanjutan di industri sawit.
Tahun RSPO akan melakukan kerjasama dengan sejumlah pemerintah negara bagian di Malaysia dan pemerintah provinsi di Indonesia.
Chief Executive Officer RSPO Datuk Darrel Webber, seperti dikutip The Borneo Post belum lama ini, mengatakan kerjasama dengan sejumlah pemerintahan lokal di Malaysia dan Indonesia itu untuk menerapkan sertifikasi pada lahan perkebunan sawit.
Ini merupakan kelanjutan dari program sertifikasi pada proses pengolahan dan produksi minyak sawit, katanya.
Menurut Webber, di Malaysia program sertifikasi lahan sawit akan dimulai dari Negara Bagian Sabah. Untuk selanjutnya akan mengarah ke Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. selain itu juga menjangkau Ekuador di Amerika Tengah.
"Saat ini kami masih melakukan pembicaraan dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan serta Ekuador," jelasnya.
“RSPO tengah mentransformasikan pasar untuk membuat minyak sawit berkelanjutan sebagai hal yang biasa. Kondisi ini nantinya akan menetapkan dan menerapkan standar yang kredibel dan memanfaatkan pasar lokal dan global," imbuhnya.
Terkait dengan resolusi Parlemen Eropa yang akan menghapus penggunaan minyak sawit untuk biodiesel pada 2020, Webber mengatakan RSPO berada di posisi terbaik untuk memenuhi tuntutan itu.
“Jujur saja, saya tidak paham dengan rencana Parlemen Eropa. Akan sangat sulit bagi mereka untuk memperkenalkan sistem sertifikasi baru. Kami tidak akan melobi karena kami adalah organisasi non-partisan, tapi kami organisasi terbaik untuk menjelaskan lanskap perubahan regulasi itu, khususnya di bidang minyak sawit berkelanjutan," tegas Webber.








