BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Untuk program biodiesel, Malaysia tertinggal jauh dari Indonesia yang kini sukses menerapkan program B20 dan bahkan akan meningkat menjadi B30 pada 2020 mendatang.

Sementara Malaysia sekarang baru akan meningkatkan bahan campuran berupa minyak sawit sebesar 10% untuk biodiesel, tapi kembali tertunda karena kuatnya penentangan dari sejumlah pihak, terutama perusahaan pengolahan sawit dan pabrikan mobil.

Bagaimana Indonesia begitu mudah menerapkan program biodiesel?

Menurut sejumlah pakar industri, seperti dilansir The Malaysian Reserve, pemerintah Indonesia berhasil meyakinkan masyarakat dan juga pabrikan untuk menerima program biodiesel karena disertai data ilmiah.

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral menggandeng sejumlah lembaga riset dan asosiasi biodiesel untuk menyajikan data ilmiah yang mendukung program biodiesel. Edukasi dan informasi itu dilakukan sebelum pelaksanaan program biodiesel, sehingga masyarakat menjadi yakin bahwa biodiesel tidak merusak mesin kendaraan.

Beberapa lembaga dan asosiasi yang digandeng pemerintah Indonesia itu meliputi Badan Pengembangan & Pembangunan Teknologi, Lembaga Minyak dan Gas, Institut Teknologi Bandung, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI).

“Pemerintah Malaysia harus teguh untuk menerapkan kebijakan biodiselnya. Tapi program itu juga harus didukung dengan data ilmiah,” kata Kepala Kompartemen Teknik Lingkungan dan Industri Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Abdul Rochim.

“Biodiesel harus sesuai spesifikasi mesin diesel tanpa harus melakukan perubahan besar,” katanya. (NEDELYA RAMADHANI/m)