BORNEOENEWS, Palangka Raya – Penaikan tarif listrik menjadi pemicu utama inflasi yang terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng) selama April 2017. Dua Kota yang menjadi indikator penghitungan inflasi yaitu Sampit dan Palangka Raya, keduanya mengalami inflasi dan menempatkan tarif listrik sebagai andil tertinggi.
Di Palangka Raya, tarif listrik menyumbang andil inflasi sebesar 0,28 persen. Posisi ini terpaut jauh dengan posisi pemicu kedua yaitu ikan Baung yang hanya andil 0,04 persen. Berikutnya Rokok Kretek (0,04), dan Tarif Pulsa ponsel (0,02). Sedangkan harga Cabai Rawit justru mulai turun harga dan tidak lagi menjadi pemicu inflasi. Pada April, malah menjadi andil deflasi sebesar -0,06 persen dan bawang merah -0,03 persen.
Sama dengan Kota Palangka Raya, Tarif listrik juga menjadi pemicu inflasi. Bedanya, di Sampit hanya 0,26 persen atau lebih rendah sedikit.
Yang berbeda, di Palangka Raya Daging Ayam ras sudah turun harga bahkan menjadi andil deflasi, di Kota Sampit ternyata harga masih tinggi dan menjadi andil inflasi di posisi kedua dengan 0,26 persen atau sama dengan andil tarif listrik. Bedanya lagi, meski sama-sama turun harga, Cabai rawit di Kota Sampit andilnya cukup tinggi yaitu -0,46 persen.
“Dari sepuluh jenis komoditas/jasa utama yang mempengaruhi tingkat inflasi/deflasi di Kota Palangka Raya, kebijakan harga oleh pemerintah terkait tarif listrik dan pulsa ponsel masih berdampak pada kenaikan indeks harga hingga April 2017,” kata Kepala BPS Kalteng Hanif Yahya, Selasa (2/5/2017).
Di pasar tingkat eceran, komoditas ikan baung dan rokok kretek filter memiliki andil lebih tinggi terhadap inflasi dibandingkan beberapa komoditas lainnya. Cabe rawit dan daging ayam ras yang ikut menyebabkan inflasi pada bulan lalu, telah mengalami stabilisasi harga selama April 2017.
Berdasarkan perbandingan tingkat inflasi di kedua kota selama April 2017, lanjut dia, secara umum andil kelompok pengeluaran di Kota Palangka Raya relatif lebih tinggi dibandingkan Kota Sampit, terutama pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar serta sandang.
Sedangkan kelompok bahan makanan serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan relatif memiliki potensi yang sama dalam mengungkit terjadinya inflasi atau deflasi di kedua kota.
“Kota Palangka Raya dan Sampit masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,21 persen dan 0,12 persen, menempati peringkat ke-38 dan ke-44 kota inflasi di tingkat nasional,” pungkasnya. (ROZIQIN/B-11)








