BORNEONEWS, Palangka Raya – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Ibnu Elmi AS Pelu mengkritisi Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Idealnya ada keselarasan antara IAIN, Universitas Islam Negeri (UIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Persoalan yang dibahas target 5 ribu dosen bergelar Doktor (S3).

“Masih ada masalah dengan SOTK kita. Harusnya seragam antara yang berbasis STAIN, IAIN dan UIN. Terkait pascasarjana tidak boleh jauh dengan fakultasnya,” ungkap Ibnu Elmi AS Pelu saat pembukaan Semiloka Nasional Forum Direktur Pascasarjana (Fordipas) VIII, di Ballroom Aquarius Hotel, Palangka Raya, Rabu (3/5/2017), yang berakhir sekitar pukul 22.00 WIB tadi malam.

Program Pasca Sarjana menurut Ibnu, juga harus bisa melakukan evaluasi terhadap program studi S1. Kemudian memiliki roadmap perguruan tinggi yang jelas dalam membangun program studi. “Kita banyak membuka Program studi, tetapi tidak pernah dievaluasi. Banyak diisi program studi keislaman, ilmu dasar keagamaan tetapi jarang sekali bahkan kurang di bidang sains.”

Sementara itu Ketua Fordipas, Ahmad Rafiq menyatakan ada beberapa hal yang menjadi fokus bahasan dalam Fordipas VIII, yang digelar selama tiga hari ke depan. Selain berbicara masalah SOTK juga ada materi lain yang juga penting. Yaitu program mencetak 5 ribu dosen bergelar doktor, serta masalah standarisasi tarif penelitian dan karya ilmiah lainnya.

“Ada dua penekanan yang disampaikan yaitu program mencetak 5 ribu doktor di perguruan tinggi dan mengenai SOTK, serta standarisasi tarif yang beberapa langkah telah diambil oleh direktur (Pascasarjana),” ungkap Rafiq.

Ia berharap, semua SOTK itu nanti sama antara UIN dengan IAIN. Yang STAIN itu harapannya adalah diarahkan minimal kepada IAIN. Termasuk kaitan dengan Direktur Pascasarjana adalah selama ini namanya berbeda-beda antar PTKIN.

“Ada yang nyebut program Pascasarjana, ini seakan temporer saja. Berbeda dengan hanya nama Pascasarjana, ini kan seolah sudah baku. Ada juga yang memakai nama Sekolah Pascasarjana. Nah kita harap ini bisa distandarkan dan ini semua bisa dibuat dari atas. Sehingga yang masih STAIN, ya transformasi mengikuti SOTK yang ada di IAIN,” tuturnya. (ROZIQIN/N).