BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Forum Direktur Pascasarjana (Fordipas) VIII, Ahmad Rafiq meminta agar Rektor IAIN, UIN, atau Ketua STAIN yang merupakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), mempush dosen internal untuk menyelesaikan jenjang doktoralnya sesegera mungkin. Saat ini 70 persen program pascasarjana terutama program doktor, diisi dari Perguruan Tinggi Swasta.
"Karena masih banyak dosen yang belum bergelar doktor, sehingga Rektor harus mempush dosen internalnya, agar selesaikan pendidikannya. Kalau tidak doktor, diwarning untuk diadministrasikan (tidak boleh mengajar)," terang Rafiq.
Penekanan Rafiq ini disampaikan saat berpidato pada Semiloka Nasional Fordipas VIII dan Bendahara Pembantu Pengeluaran (BPP) PTKIN se-Indonesia di Aquarius Boutique Hotel Palangka Raya, Rabu (3/5/2017) malam. Kegiatan yang dihadiri para direktur pascasarjana ini dibuka Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI, Prof Nizar.
Ia mengungkap, dengan kondisi masih banyaknya dosen belum menamatkan program doktoralnya, berakibat pada kualitas input dalam jajaran pengajar PTKIN. Rafiq berharap, dosen yang ingin program doktoral bisa masuk atau melanjutkan ke Universitas Al Azhar Mesir, guna semakin memperkaya wawasan 'Islamic Studies' yang diperoleh.
Sementara itu, ada beberapa hal menarik yang mencuat untuk didiskisikan dalam semiloka tersebut. Antara lain standar honor dosen, anggaran proyek penelitian, remunerasi gaji, dan standar penjaminan mutu.
Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Ibnu Elmi AS Pelu mengkritisi Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Idealnya ada keselarasan antara IAIN, Universitas Islam Negeri (UIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).
“Masih ada masalah dengan SOTK kita. Harusnya seragam antara yang berbasis STAIN, IAIN dan UIN. Terkait pascasarjana tidak boleh jauh dengan fakultasnya,” ungkap Ibnu Elmi AS Pelu saat pembukaan Semiloka Nasional Forum Direktur Pascasarjana (Fordipas) VIII, di Ballroom Aquarius Hotel, Palangka Raya, Rabu (3/5/2017), yang berakhir sekitar pukul 22.00 WIB tadi malam.
Program Pasca Sarjana menurut Ibnu, juga harus bisa melakukan evaluasi terhadap program studi S1. Kemudian memiliki roadmap perguruan tinggi yang jelas dalam membangun program studi. “Kita banyak membuka Program studi, tetapi tidak pernah dievaluasi. Banyak diisi program studi keislaman, ilmu dasar keagamaan tetapi jarang sekali bahkan kurang di bidang sains.” (ROZIQIN/N).








