BORNEONEWS, Palangka Raya - Anggota Komisi VII DPR RI, Ikhwan Datu Adam mengatakan, salah satu bentuk menjaga NKRI adalah kesamaan pembangunan di Indonesia. Salah satunya pembangunan sumber energi, untuk mengatasi krisis listrik. Termasuk di Kalimantan Tengah.

"Bela NKRI, Kalimantan terang-benderang," kata Ikhwan Datu Adam melalui pesan WhatsApp, Jumat (5/5/2017).

Selama ini kata Ikhwan, Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam terabaikan. Contoh nyata, masih banyak tempat yang tak teraliri lisrik. Menurut politisi Partai Demokrat ini, lebih parah lagi ketika listrik sering padam. Perusahaan Listrik Negara mengatakan mereka kekurangan pasokan bahan bakar. "Seperti tikus mati di lumbung padi."

Untuk itu Ikhwan mendesak negara untuk memperkuat suplai energi di Kalimantan. Hal itulah bentuk nyata sebuah upaya menjaga keutuhan NKRI.

Sebelumnya, Direktur Bisnis PLN Regional Kalimantan Joko Raharjo Abumanan, menjamin, sistem kelistrikan di wilayah Kalimantan atau Tol Listrik akan terkoneksi pada 2019. Jaminan diberikan setelah PLN tuntas membangun pembangkit listik dengan daya sebesar 700 MW (Mega Watt).

"Guna menunjang target tersebut, untuk Kalimantan Tengah (Kalteng) sudah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uanp (PLTU) 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau. Selain itu, tengah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Kabupaten Barito Utara, dengan daya 2x155 MW," kata  Joko Raharjo Abumanan, ketika mendampingi kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di Palangka Raya, kemarin.

Dengan demikian, pada 2019, semua sistem jaringan kelistrikan dari sejumlah pembangkit di Kalteng sudah terkoneksi, termasuk pembangkit 2x100 di Gunung Mas dan 2x27,5 MW di Kotawaringin Timur. Itu berarti, di wilayah Kalteng yang masuk sistem interkoneksi, meliputi Barito Utara, Barito Selatan, Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, Katingan dan Kotawaringin Timur.

“Sekarang yang sedang dibangun, pembangkit di Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Barat, Sukamara dan Lamandau. Nantinya, di perbatasan Kalteng-Kalsel termasuk PLTMG Trisakti di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan daya 100 MW yang akan mendukung sistem," ungkap Joko Raharjo. (RONI SAHALA/N).