BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ada yang berbeda dengan perjalanan Borneonews kali ini. Swiss contact mengajak untuk bersama-sama melakukan trial trip ke sejumlah desa di Kabupaten Lamandau selama tiga hari, 1-3 Mei 2017.
Tiga hari! Senang sekali rasanya mendapat kesempatan mengeksplorasi budaya di Lamandau. Desa-desa yang akan kami kunjungi antara lain Desa Riam Panahan, Riam Tinggi, Lopus dan akan berakhir di Tapin Bini.
Tepat pukul 8 pagi seleruh peserta trial trip yang berjumlah 26 orang berkumpul di kantor Swiss Contact, Pinang Merah, Pangkalan Bun. Selain dari Swiss Contact, peserta berasal dari kalangan tour operator, pemandu wisata, media, dan beberapa sukarelawan dari Orang Utan Foundation International. Wah, semua peserta sangat bersemangat mengikuti perjalanan ini.
Nissa, pemandu wisata Taman Nasional Tanjung Puting, mengatakan bahwa ini ada adalah kali pertamanya berwisata ke Lamandau.
"Senang, punya kesempatan bergabung dengan kalian semua. Biasanya saya ke Lamandau hanya untuk mengunjungi keluarga,” ungkap Nisa bersemangat.
Tepat pukul 9.00, Rudy, ketua pelaksana trial trip dari Swiss Contact langsung membagi kelompok keberangkatan. Saya satu mobil bersama tiga pemandu wisata Tanjung Puting, Maita, Nissa dan Bayu, Iwan dari Disbudpar Kabupaten Lamandau, dan Jenny mahasiswi Jerman yang sedang magang di Swiss Contact. Tujuan pertama kami adalah Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau.
Perjalanan memakan waktu sekitar dua Jam. Hampir sepanjang jalan dari Simpang Runtu menuju Kabupaten Lamandau, kami melawati hamparan kebun sawit milik beberapa perusahaan kelapa sawit ternama. Hanya ada beberapa bukit indah yang tersisa menghiasi perjalanan kami ke Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau.
Bukit Batu, begitu saya menyebutnya. Bukit ini bukan objek yang asing bagi saya. 1 tahun lalu saat saya bekerja di salah satu perusahaan sawit di lamandau, hampir setiap minggu saya melawatinya.
Bukit ini merupakan hamparan perbukitan yang ditumbuhi rumput dan ilalang. Bebatuan berukuran besar menghiasi permukaan bukit. Bukit indah ini terlihat sangat kontras dengan kebun sawit yang mengelilinginya. Ah, ingin sekali mendaki bukit hijau ini. Mungkin nanti.
"Angel's stone,” sebut Rudy.
"Mungkin kita akan berhenti di sana sebentar,” ujar Rudy saat persiapan di kantor Swiss Contact.
Saya baru tahu, kalau mereka menyebutnya Angel's Stone. Tentu saja bukit itu pantas disebut "Batu Malaikat" sebagai apresiasi atas keindahannya.
Namun sepertinya memang belum rezeki saya mengambil foto di "Batu Malaikat" itu. Rombongan batal berhenti di lokasi karena matahari yang terlalu terik dan keterbatasan waktu. Petualangan baru saja dimulai. (WAHYU WULANDARI/m)








