BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah dua jam perjalanan menuju Nanga Bulik, Saya beserta rombongan trial trip singgah di Kantor Dinas Pariwisata Lamandau di jalan Maskaya Pangaruh, Komplek Perkantoran Bukit Hibul, Nanga Bulik, untuk makan siang.
Rombongan disambut oleh Frans Effendi, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau dan beberapa staf.
Saatnya mengisi "bahan bakar". Saya, Nissa dan Maita mengambil makan siang yang telah disediakan setelah beramah tamah dengan beberapa orang staf kantor dinas. Kami memasuki ruangan yang disediakan untuk makan siang.
Di dalam ruangan, Dhea, Chelyn, dan Ithie, telah lebih dulu berbincang-bincang dengan Plt Kadispar. Tiga volunteer cantik ini masing-masing berasal dari Inggris, Belgia dan Amerika. Mereka sangat tertarik dengan perlengkapan khas Dayak yang ditunjukakn Frans Effendi.
"Wow amazing! So beautiful cap!" (Wow menakjubkan! Topi ini cantik sekali!) Mereka mengagumi keindahan tentukung.
Tentukung adalah semacam topi berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman rotan, berhiaskan kain perca warna-warni dengan taburan kancing baju dan tentu saja bulu burung Tingang di puncak kerucut.
"Ini namanya tentukung. Sampai sekarang masih dipakai Suku Dayak di berbagai upacara tradisional,” jelas Frans mengenai fungsi Tentukung kepada ketiga orang asing tersebut.
Sambil makan siang, saya terus mendengarkan penjelasan Frans sambil mengamati perlengkapan tradisional lainnya. Di antaranya, baju yang terbuat dari kulit kayu, tanggui yaitu tutup kepala berbentuk lingkaran lebar untuk bertani, bariut yaitu keranjang tempat hasil panen seperti buah-buahan dan beberapa jenis keranjang lainnya.
Dari semua jenis keranjang yang ditunjukan oleh Dinas Pariwisata, ada satu yang menarik perhatian saya. Bariut Kajut, begitu Frans menyebutnya.
"Bariut ada dua. Bariut biasa untuk tempat berbagai hasil pertanian dan Bariut Kajut, tempat kepala manusia,” jelas Frans.
"Oooohhh, scary!" Ketiga bule itu bergidik ngeri.
Bariut Kajut berukuran lebih besar dari pada bariut biasa dan berbentuk seperti ransel dengan dua tali untuk menggendong keranjang di bahu.
Menurut Frans, dulu bariut bisa berukuran lebih besar lagi untuk memuat kepala lebih banyak. Ia menjelaskan bahwa membawa kepala manusia pulang ke rumah merupakan simbol kemenangan suku Dayak saat menang perang.
"Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Masyarakat sekarang sudah lebih maju dan cerdas,” ujar Frans menenangkan. (WAHYU WULANDARI/m)








