BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah upacara ikat tongang selesai, penyambutan dilanjutkan dengan tari-tarian. Kami menari bersama laki-laki dan perempuan dayak bergantian. Satu kelompok tari terdiri dari empat orang. Dua laki-laki, dua perempuan.
Sebelum menari, saya dipakaikan Tapih Bahalai yang panjangnya hingga di bawah lutut dan selendang yang diselempangkan di bahu kiri dan diikat di pinggang sebelah kanan.
Awalnya saya berpikir kami akan menarikan tarian yang sering saya lihat dipentas-pentas seni di Pangkalan Bun. Tarian enerjik dengan berbagai gerakan sulit. Ternyata baigal jauh lebih lembut dan santai daripada yang saya bayangkan.
Sebelum menari kami diminta bersalaman dengan semua yang hadir. Laki-laki bersalaman dengan laki-laki, perempuan bersalaman dengan perempuan.
Ada yang unik dengan cara bersalaman suku Dayak. Mereka saling menangkupkan kedua telapak tangan kemudian mengangkat kedua tangan mereka ke samping telinga masing2, seperti gerakan takbir umat muslim.
Selesai bersalam-salaman musik pun dimulai. Saya berusaha mengikuti gerakan lembut perempuan dayak di depan saya dengan seksama. Gerakan tangannya lembut seperti gerakan sayap burung yang dikepakkan ke atas dan ke bawah diikuti gerakan kaki berjalan perlahan berkeliling.
Saat musik selesai, kami dipersilakan duduk dan disajikan tuak untuk diminum bersama. Bagi saya yang tidak pernah minum tuak, harus menolak ajakan itu tentu saja. Saya bertanya kepada salah satu dari mereka, apakah saya boleh tidak meminumnya.
"Kalau bisa diminum, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa kami tidak memaksa,” ujarnya.
Namun demi kesopanan, akhirnya saya putuskan untuk mencicipinya di bibir saja.
Setelah selesai minum, musik kembali berbunyi. Iring-iringan gendang dan garantung ini benar-benar membuat saya betah menari. Setiap kali musik berhenti, kami dipersilakan untuk duduk dan meminum tuak. Begitu seterusnya hingga tarian berakhir.
"Kalau joget-jogetan tadi namanya baigal, yaitu jogetan bersama para tamu. Ada kalanya baigal dilakukan oleh empat laki-laki dan empat perempuan. Tapi itu dilakukan saat ritual batewah," jelas Solen Singkal Saing, demang adat Desa Riam Panahan. (WAHYU WULANDARI/m)








