BORNEONEWS, Palangka Raya - Tumbuhan sayur Gambas mungkin tidak banyak dikenal karena tidak sepopuler Kacang Panjang , Kentang dan Wortel. Namun di Kalimantan Tengah, orang lebih mengenal tanaman ini dengan sebutan Lempang. Masih jarang yang menyebutnya gambas namun memang dalam bahasa Indonesia tumbuhan ini disebut Gambas dan Lempang dalam bahasa Dayak.

Tumbuhan inilah yang dibungkus plastik putih dengan jumlah berbeda dan dihargai berbeda pula. Tidak banyak, hanya ada kurang dari lima bungkus gambas diletakkan dalam gerobak sorong berwarna merah dan didorong seorang kakek tua pada sebuah komplek perumahan di bilangan Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Sabtu (6/5/2017) pagi. "Yang ini sekilo, harganya Rp7.000 yang ini Rp5.000 saja," ungkap Yasir, sang penjual.

Yasir memang seorang petani yang memfokuskan dirinya pada tumbuhan Gambas. Hanya satu jenis ini yang ia tanam pada sebuah lahan pinjaman di kawasan Penanga Raya, Palangka Raya. Yasir sendiri yang sudah berusia 86 tahun tidak tahu persis berapa luas lahan yang ia tanami gambas.

"Pinjam lahan orang. Kan nggak dipakai. Daripada nganggur saya izin yang punya untuk ditanami. Kata orangnya silakan, supaya tanahnya tidak sia-sia dan bisa diolah," kata Yasir kepada Borneonews, Sabtu (6/5/2017)

 Yasir meminta untuk tidak mengasihani dirinya karena gambas yang tampaknya sedikit dan ia bawa berkeliling di bawah terik matahari pagi hanya sisa dari gambas-gambas yang telah ia jual kepada tengkulak. "Saya jual ke tengkulak juga. Rp9.000 per kilonya, sudah habis diambil semua, yang ini sisa," tutur Bapak tiga anak ini.

Saat Borneonews bertanya mengapa ia malah menjual gambas sendiri dengan harga lebih murah dibandingkan yang ia jual kepada tengkulak, Yasir tertawa. "Yang ini kan yang kualitasnya kurang bagus. Tidak lurus, bengkok dan kecil-kecil jadi ya dijual agak murah. Kalau ke tengkulak besar, lurus dan bagus. Nggak apa-apa, dijual sendiri kan untungnya utuh juga. Yang penting laku, daripada tidak kemakan dan malah busuk," kata Yasir. (TESTI PRISCILLA/B-8)