BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selama prosesi ikat tongang, selain tuak, tuan rumah juga menjamu kami dengan menginang. Penginangan disodorkan kepada siapa saja yang ingin mencoba.

Tempat penginangan terbuat logam kuningan berbentuk mangkuk besar yang berkaki. Juga disediakan tempat untuk mengeluarkan ampas menginang dan wadah untuk menampung ludah. Tahukah travellers, menginang dapat memperkuat gigi?

Solen Singkal Saing bercerita mengenai orang tua beliau yang giginya masih utuh meski telah berumur 125 tahun.

"Bapak Saya meninggal tahun 1991. Umurnya 125 tahun. Giginya masih utuh, karena menginang,” kata demang adat Desa Riam Panahan itu.

Solen juga menambahkan, bagi masyarakat Dayak menginang merupakan tradisi turun temurun. Sama halnya seperti tuak, menjamu tamu dengan menginang adalah tanda penghormatan kepada tamu.

"Bahan-bahan untuk menginang ini merepresentasikan Pancasila, karena ada lima bahan yang dicampur: daun sirih, kapur sirih, pinang, gambir dan tembakau." Ujar Solen .

Saya yang disodori penginangan lagi-lagi menolak karena memang tidak pernah. Namun peserta trial trip lain, Kasmawati yang sudah terbiasa menginang di kampung halamannya, menjelaskan kepada saya bagaimana rasanya.

"Rasanya ya seperti daun sirih, agak sepat,” ujar Kasma sambil menginang.

Selesai menginang Kasma mengeluarkan ampas dan membersihkan giginya. Wah ternyata selain memperkuat gigi, menginang juga mempercantik bibir. Warna bibir berubah menjadi merah seperti lipstik. Bisa jadi pewarna bibir alami.

Berminat mencoba? (WAHYU WULANDARI/m)