BORNEONEWS, Sampit - Harga tandan buah segar (TBS) sawit tidak pernah stabil hingga menjadi keluhan bagi para petani sawit. Sementara biaya perawatan yang dirasakan selama ini selalu meningkat.

"Selalu berubah-ubah harganya. Tidak pernah stabil. Bulan lalu sempat di harga Rp1.500 per kilogramnya. Nah sekarang bulan ini sudah turun jadi Rp1.200, padahal kita berharap paling tidak harga tetap, ini turun malahan," ucap Murjani, petani sawit di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotim, Minggu (7/5/2017).

Sementara itu, biaya operasional, menurut Murjani, tidak pernah turun. Bahkan selalu meningkat mulai dari harga pupuk, racun, hingga biaya perawatan."Termasuk biaya upah pemanenan, kita mengupah tetap tidak pernah kita turunkan," ungkap Murjani.

Murjani berharap harga sawit bisa stabil dan tidak fluktuatif seperti saat ini. "Paling tidak kalau harganya naik bertahan untuk beberapa lama jangan cuma bertahan sekali berikutnya turun lagi. Biaya operasional tidak tertutupi jadinya," ucap dia.

Menurut Murjani, mereka sendiri tidak bisa berbuat banyak berapapun harga yang ditawarkan oleh pengepul itulah yan disepakati. Karena pengepul sendiri beralasan harga turun menyesuaikan harga di perusahaan.

"Kalau kata pengepul turun apa boleh buat. Ini yang harus dipikirkan pemerintah bagaimana dengan kesejahteraan petani sawit. Harus ada solusi bagaimana harga komoditas kami ini, jangan sampai dipermainkan," pungkasnya. (NACO/B-2)