BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Saya, Bayu dan Solen kembali melanjutkan berkeliling kampung. Desa di tepi sungai ini memang asri dan masih asli. Terlihat dari rumah-rumah betang yang berdiri gagah di seluruh kawasan desa. Rumah-rumah tersebut ada yang berpenghuni dan ada juga yang sudah tidak dihuni lagi.

Beberapa rumah betang yang telah berumur puluhan tahun seperti rumah bapak dan kakek Solen, dindingnya terbuat dari kulit kayu emang dan kulit kayu benua.

"Kalau batang yang paling kuat itu ulin. Kalau kulit yang paling kuat emang. Selain emang ada kulit meranti dan benua,” jelas Solen, demang adat Desa Riam Panahan.

Solen juga menjelaskan, luas rumah betang satu dan yang lainnya berbeda-beda, tidak ada ukuran khusus yang digunakan. Namun rumah betang memang dibuat tinggi.

“Zaman dulu banyak kayau (orang berburu kepala manusia), jadi rumah dibuat tinggi. Dan kalau malam tangga rumah ditingkapkan (di balik). Maksudnya supaya kayau tidak mudah masuk,” Solen terus bercerita sambil berjalan.

Solen juga menambahkan bahwa rumah betang zaman dulu tinggi ulin penyangganya dibuat 3,5 depa. Masing-masing tiga depa untuk menyangga rumah, dan setengah depa ditimbun di dalam tanah.

"Tapi sekarang kayau sudah tidak ada lagi,” kata Solen. (WAHYU WULANDARI/m)