BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) fokus pada penyelesaian pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Keerom, Papua.
Pabrik ini akan menjadi pabrik kesembilan BWPT dengan kapasitas pengolahan 45 ton tandan buah segar (TBS) per jam atau 270.000 ton per tahun ini ditargetkan beroperasi tahun depan. Kapasitas produksi pabrik ini bisa ditingkatkan menjadi 90 ton TBS per jam.
Secara total, BWPT memiliki kapasitas produksi 1,3 juta ton dengan rincian TBS milik inti 1,15 juta ton dan plasma 184.678 ton. Angka ini turun 7% dari volume produksi TBS 2015 akibat dampak El Nino.
Jika hanya memperhitungkan dana yang dibutuhkan untuk penyelesaian pabrik, maka nilai investasinya hanya sekitar Rp160 triliun. Namun, ada beberapa fasilitas, terutama untuk pekerja, sehingga total investasinya sekitar Rp 200 miliar.
BWPT akan menutup kebutuhan dana investasi pabrik dari anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini yang mencapai Rp400 miliar. Sejatinya, BWPT punya cukup alasan untuk fokus pada penyelesaian pabrik karena memiliki lahan tertanam seluas 16.000 hektare (ha), termasuk lahan plasma di Papua, level itu merupakan level yang ideal bagi BWPT untuk memiliki PKS sendiri.
Total lahan tertanam BWPT mencapai 153.000 hektare. Sekitar 94% akan memasuki usia tanaman menghasilkan tahun ini.
Optimalisasi lahan tertanam dan kapasitas produksi juga sejalan dengan rencana pemegang saham baru BWPT, FIC Properti Sdn Bhd (FICP).
Berakhirnya efek dari El Nino menjadi katalis positif BWPT, tahun ini ditargetkan pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) menjadi 226.489 ton tumbuh 30% dibandingkan tahun sebelumnya 174.223 ton.
Selain karena memudarnya efek El Nino, optimisme juga didasari atas profil usia lahan tertanam BWPT yang cukup bagus.
Saat ini, proses akuisisi PT Eagle High Plantations oleh anak usaha Federal Land Development Authority (Felda), yaitu FIC Properties Sdn Bhd., telah berlangsung. Grup Rajawali yang merupakan pemegang saham BWPT sepakat melego 37% saham BWPT dengan nilai US$505,4 juta.
Proses akuisisi BWPT oleh FIC Properties Sdn Bhd. tergolong alot. Perjanjian ini sudah diteken sejak akhir 2016 lalu, namun ada beberapa masalah yang memperlambat Felda mengakuisisi emiten perkebunan kelapa sawit ini, di antaranya adanya pergantian pucuk pimpinan Felda, kemudian regulasi baru dari Bank Negara Malaysia yang membatasi outflow.
Sedangkan analis Bahana Securities, Gregorius Gary, mengatakan meskipun Felda melakukan akuisisi terhadap saham BWPT, namun Grup Rajawali masih menjadi pemegang saham pengendali utama dengan 38% saham di BWPT.
"Jadi proses akuisisi ini hanya proses transaksi kepemilikan saham, tidak melibatkan perubahan struktur manajemen BWPT," papar Gary di Jakarta, pekan ini.
Gary menilai, perkebunan seluas 134.000 hektare milik BWPT sudah masuk pada usia produktif di mana usia rata-ratanya sekitar 8,4 tahun. Dampaknya, produksi TBS perseroan akan naik menuju hasil yang maksimal.
"Diperkirakan BWPT menghasilkan 13,2 ton per hektar pada 2017, naik dibanding tahun kemarin sebesar 11,3 ton per hektare dan dapat menghasilkan 421.000 ton CPO, naik 44% year on year," ujarnya.
Dengan pertimbangan tersebut, Gary memperkirakan tahun ini BWPT akan membukukan laba Rp225 miliar, dibandingkan rugi bersih yang tercatat pada tahun lalu yang sebesar Rp389 miliar.
Dia juga memperkirakan belanja modal BWPT akan lebih rendah karena manajemen diperkirakan tidak akan menanam dalam beberapa tahun ke depan dan merekomendasikan 'buy' (beli) untuk saham berkode BWPT ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)








