BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Desa Lopus terletak di Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau Travellers. Desa ini telah menjadi salah satu desa wisata di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.
Berbeda dengan Desa Riam Panahan, di Desa ini mereka melestarikan kembali kerajinan khas Dayak, yaitu kulit Kapua dan serat Bomban. Hasil kerajinan ini kemudian mereka jual kepada pengunjung. Saya jadi tidak sabar untuk melihat proses pembuatannya.
Kami tiba di Lopus sekitar pukul 6.00 malam. Di sini Kami kembali disambut dengan upacara ikat tongang. Meskipun tidak diikuti dengan baigal seperti di Desa Riam Panahan, karena waktu yang terbatas. Akan tetapi, tuak tidak pernah ketinggalan. Kami kembali diminta untuk meminum tuak setiap kali selesai diberi tongang.
Setelah ikat tongang selesai, saatnya berbelanja suvenir. Di depan homestay tempat kami menginap, digelar pameran kecil-kecilan. Ibu-Ibu warga Desa Lopus memamerkan kerajinan tangan yang mereka buat dari kulit kapuak dan serat bomban.
Kulit kapuak diproses dari pohon kapua yang telah dibuang kulit luarnya. Kulit bagian dalam kemudian dipukul-pukul hingga tipis dan dapat dijahit, lalu dikeringkan. Proses pembuatan kulit kapua memakan waktu sekitar satu minggu.
"Semakin tua umur pohon, semakin keras kulit yang dihasilkan," ujar Enta, pengrajin kulit kapua.
Kulit kapua ini diolah menjadi berbagai macam kerajinan, seperti dompet, tutup kepala, tas, dan lain-lain. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp30.000 sampai ratusan ribu. Saya memilih membeli kulit kapua yang belum diolah menjadi barang kerajinan. Cukup dengan Rp50.000 saja, kulit kapua 75 x 50 cm bisa saya dapatkan.
Selain kulit kapua, warga Desa Lopus juga mengolah anyaman serat bomban menjadi berbagai macam bentuk tas travellers. Anyaman bomban ini sekilas seperti rotan, namun warna abu-abu khas serat bomban, menjadikannya lebih menarik.
"Kalau bomban, mencarinya lebih susah dari kapua. Tetapi proses pengolahannya lebih singkat. Cuma satu hari. Kalau kulit kapua bisa sampai satu minggu," Enta kembali menjelaskan kepada saya.
Harga tas anyaman serat bomban ini berkisar antara Rp50.000 sampai ratusan ribu. Sebanding dengan produk yang kita dapatkan.
"Dulunya masyarakat di sini membuat kerajinan untuk dimanfaatkan sendiri, sekarang produknya sudah bervariasi seperti tempat handphone, tas laptop, gantungan kunci untuk dijual kembali," ujar Rudy, ketua pelaksana Trial Trip, menambahkan.
Setelah puas menyaksikan berbagai produksi suvenir Desa Lopus ini, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi paket wisata. Setelah itu kami beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Tapin Bini keesokan harinya.
Sebagai informasi, bagi kalian yang berminat mengunjungi desa ini, bisa menginap di homestay Desa Lopus. Cukup dengan Rp80.000 saja per orang, pengunjung sudah mendapatkan fasilitas kama, dengan kamar mandi bersama plus sarapan, makan siang dan makan malam. Murah meriah bukan? (WAHYU WULANDARI/m)








